31 December 2014

10 Film Favorit Tahun 2014


Tahun 2014 ini banyak banget film bagus. Entah di tahun ini saya lagi gak begitu suka sama film "lucu-lucuan". 22 Jump Street, Lego Movie, dan Penguin of Madagascar yang begitu populer pun enggak masuk ke list favorit tahun ini. Ah sudahlah. Mari disimak, inilah sepuluh film favorit saya di tahun 2014...

18 December 2014

Eternal Glove - Part 20: Savana



Setelah berlari menembus hutan kelapa dan melewati padang rumput yang sangat luas akhirnya kami sampai di reruntuhan ibukota Savana Kingdom. "Selamat datang di Savana Kingdom... peradaban disini telah habis lima belas tahun yang lalu akibat serangan dari Thalia dan pasukannya. Sisa penduduk yang dapat bertahan hidup kini membangun desa di seberang Sungai Harapan." Lennan melambatkan langkahnya, kini kami berjalan santai sambil mengatur nafas. Rose dan Aurora melompat turun dari punggung Lennan dan Keenan. Kami berjalan santai melewati sisa-sisa reruntuhan kota. Rumah-rumah penduduk hanya tersisa dindingnya saja yang akan roboh bila tersentuh. Rapuh. Tak terbayang kengerian apa yang terjadi di tempat ini lima belas tahun yang lalu.

12 December 2014

Little Talks: Bastian


*Lagi nongkrong di depan Griya Ayunda, kemudian lewat sekumpulan warga sedang mengantar kepergian seseorang ke tempat peristirahatan terakhir... lengkap dengan kerandanya*

Little Talks: Mas Fuad


*Lagi minum air putih sambil berdiri di kosnya Mas Fuad*

05 December 2014

Eternal Glove - Part 19: Luka




"Kejar mereka Yudans!! mereka tidak boleh sampai di perkemahan para Centaur!!" teriak Allysa kepada Yudans. "Baik..." Yudans kemudian berlari mengejar para Ksatria Riviere yang sedang dalam perjalanan menuju perkemahan para Centaur di tepi Sungai Harapan. Tubuh Yudans bersinar terang, menyilaukan mata Allysa. Allysa memandangi Yudans dari kejauhan sambil menahan kilauan sinar kemerahan yang keluar dari tubuhnya.

19 July 2014

Eternal Glove - Part 18: Teman




"Naiklah kemari Ksatria Rivierre..." kata salah satu dari sosok asing tersebut. Suaranya tenang dan tegas, seperti tidak ada keraguan darinya. "Siapa kalian?!!" Iceberg berteriak sambil mencabut pedang dari sarungnya. "Naiklah kemari terlebih dahulu, tidak baik jika kita berbicara sambil berteriak." Iceberg menengok ka arahku. "Bagaimana Orion?" Sinar matahari pagi berada di belakang mereka, membuatku memicingkan mata ke arah beberapa sosok misterius itu, "Kita ikuti kemauan mereka, Iceberg... sepertinya mereka baik." Iceberg melihat kembali ke arah mereka, "Baiklah, kami akan kesana... jika kalian berencana untuk membahayakan teman-temanku, aku tidak akan segan mengayunkan pedangku ke leher kalian." Iceberg mencoba untuk tetap tenang. Belum ada yang bisa kami percayai di dunia ini, tapi apa salahnya jika kami mencoba untuk mencari teman.

07 July 2014

Makhluk Mistik Favorit - Part 1: Centaur



Kita hidup di dunia ini berdampingan dengan makhluk lainnya. Makhluk yang udah jelas nyata ya manusia, hewan, tumbuhan. Dari ketiga makhluk tersebut ternyata masih ada beberapa makhluk lain ciptaan Tuhan, contohnya malaikat dan iblis. Atau biasa disebut dalam kategori makhluk gaib. Lantas, apa itu makhluk mistik. Kalo menurut saya, makhluk mistik adalah makhluk yang tidak nyata dan hanya ada di khayalan orang atau menjadi cerita turun temurun dan belum pernah terbukti keberadaan mereka di dunia ini. Ada beberapa makhluk mistik yang populer hingga beberapa dari mereka masuk ke dunia dongeng, novel, bahkan film di masyarakat modern.

06 July 2014

Eternal Glove - Part 17: Sergap




Kami telah selesai berolah raga untuk meregangkan otot sejenak. Aku berdiri menatap lautan lepas. Tidak lama lagi kami akan meninggalkan pantai ini. Mimpi yang barusan aku simpan rapat-rapat dalam ingatan. Semoga itu hanya mimpi. "Kamu dari tadi diam aja Orion... ada yang salah?" Aurora membuyarkan lamunanku. "Ahh gakpapa kok, cuma mikirin abis ini kita harus kemana... abis ini kita kemana Iceberg?" Ku coba untuk mengalihkan pembicaraanku dengan Aurora.

05 July 2014

Eternal Glove - Part 16: Vision



Sarapan telah selesai. Aku duduk kembali di bawah pohon kelapa yang tadi sebelum Jack menggangguku. Pohon kelapa yang menjadi sandaranku memiliki batang yang sangat besar. Rasanya seperti bersandar di kursi kayu dengan beralaskan pasir yang lembut seperti bantal bulu angsa. Aku mengerjapkan mataku, angin berhembus pelan. Udara pagi sangat segar disini. Jika dilihat dari letak matahari yang mengintip dari dahan, sekarang ini masih pukul enam pagi. Aku memang tidak suka mengenakan jam tangan. Masih terlalu pagi untukku. Kalau di rumah, biasanya jam segini aku masih tertidur malas di atas kasur yang empuk. Sayup-sayup terdengar suara Iceberg, "Kita tambah lagi waktu istirahat kita, satu jam lagi kita berangkat ke Savana Village... desa terdekat dari sini."

05 June 2014

Eternal Glove - Part 15: Tropical Beach




Matahari pagi telah mengintip dari ufuk timur. Kami berhasil menyeberangi Lautan Kabut setelah semalaman berjalan kaki melewati "Ice Path" yang dibuat oleh Iceberg. "Ahhhh akhirnya sampai,"  Jack langsung menjatuhkan tubuhnya  di pasir pantai yang sangat putih. "Gimana kalau kita istirahat disini dulu?" tanyaku sambil duduk bersandar dibawah pohon kelapa sambil meletakkan busur panahku. Pantai ini sangatlah teduh, pohon kelapa berjajar dari ujung hingga ke ujung. Angin pagi berhembus tenang. Udara tropis sangat terasa disini, rasanya sudah berbeda dengan udara pada Pantai Kabut di seberang sana. Sinar matahari sangat hangat disini. Sinarnya menembus dedaunan pohon kelapa, menyeruak menghangatkan pasir pantai yang kami injak. "Ya, lebih baik kita istirahat dulu disini. Satu jam lagi baru kita berangkat..." ucap Iceberg menyetujui usulku. 

19 May 2014

Lara


Entah kapan terakhir kali aku merasakan rasa yang sesakit ini.

18 May 2014

Eternal Glove - Part 14: Kenyataan




Iceberg berlari ke arah Golem. Dia mengayunkan pedangnya ke kaki kiri Golem. "ICE SLASH!!" kaki kiri Golem membeku karena tebasan pedang Iceberg. "Groaaarrrgghhhh," Golem berteriak marah karena kakinya membeku. "Sekarang Orion!!" teriak Iceberg sambil meloncat menghindari ayunan tangan kanan Golem. Aku membidik kaki kiri Golem yang membeku dengan panahku. Golem kesulitan bergerak karena kaki kirinya telah membeku. Ukuran tubuh Golem terlalu besar, sangat mudah membidiknya. Dengan tarikan nafas panjang aku melepaskan anak panahku. Api berkobar di ujungnya, anak panahku melesat dengan cepat ke arah Golem. Crakk. menancap tepat di kaki kiri Golem yang membeku dan dalam sekejap kaki itu meleleh karena api yang dikeluarkan oleh anak panahku. "Aaaaaaarrrggghhhh," teriak Golem kesakitan. 

05 May 2014

Eternal Glove - Part 13: Asa di Tengah Kabut



Iceberg memegang erat pedangnya dengan kedua tangannya. Nafasnya tersengal-sengal. Begitu pula nafasku. Keringat dingin menetes bercucuran. "Bersiaplah Orion, setelah ku tebas kaki kirinya dengan pedangku, segera luncurkan anak panahmu kesana," kata Iceberg yang berdiri di seberang kanan ku sambil setengah berteriak. "Baiklah..." aku pun langsung menyiapkan anak panah dan merentangkan busur panahku menuju ke sasaran yang diperintahkan Iceberg. Iceberg menarik nafas dalam-dalam, kedua tangannya yang menggenggam pedang kini berada di sisi kanan kepalanya, "SEKARANG!!" Iceberg berlari ke arah Golem.

18 April 2014

Eternal Glove - Part 12: Sihir



Kuda yang kami naiki berlari sangat kencang. Layaknya Kuda Sembrani, kuda ini berlari seakan-akan dia terbang. Saking cepatnya angin yang menerpa kami jadi tidak terasa. Entah ini karena mantel yang kami kenakan atau karena terlalu kencang berlari. Biasanya, dengan kecepatan seperti ini, rambut keriting ku sudah berantakan karena terpaan angin. Iceberg masih yang terdepan, kami berempat saling mendahului bergantian. Sinar mentari senja telah hilang ditelan awan-awan yang menghitam. Gelap. Kami berkuda menuju selatan. Padang rumput yang luas ini seakan telah menjadi taman bermain untuk kuda yang kami naiki ini. Aku melihat ke arah barat, dikejauhan terlihat matahari yang mulai tenggelam ke dalam lautan lepas. Sedangkan disisi timur, disana ada pepohonan lebat, sepertinya itu hutan. Ya memang hutan. Aura gelap seperti menaunginya.

Eternal Glove - Part 11: Mantel, Peta, dan Kuda




Eternal Inn, pukul 17:00

Kami berlima kembali duduk di lobby Eternal Inn. Waktu berjalan begitu cepat. Tadi pagi kami dijemput paksa oleh Franco dari sini dan diajak ke istana Eternal Kingdom untuk menemui Ratu Tania. Kini, kami kembali lagi. Beristirahat sejenak di Eternal Inn sepertinya memang keputusan yang sangat tepat. Setengah jam lagi kami akan bertemu dengan Ratu Tania di gerbang kota dan berangkat meninggalkan kota yang indah karena lima jembatannya yang menjulang di tengah kota. Stevan, sang pemilik penginapan, masih dengan setelan baju yang sama dengan tadi pagi ketika kami pamit untuk keluar sebentar. Dia memakai celana panjang merah dengan atasan kemeja lengan panjang berwarna putih dan dibalut rompi tanpa lengan berwarna merah juga. Bedanya, kini lengan kemejanya telah digulung sebatas siku lengannya. Dari perawakannya, sepertinya dia berumur lima puluh tahunan. Rambut dan kumisnya yang tebal berwarna cokelat menyala. "Ini teh hangat buat kalian, beristirahatlah sebentar... tidak lebih dari setengah jam lagi kalian akan meninggalkan kota ini dan akan menghadapi monster ataupun makhluk liar lainnya di luar sana." Stevan meletakkan lima cangkir teh hangat dengan asap yang mengepul di atas meja di depan tempat kami duduk. 

18 March 2014

Eternal Glove - Part 10: Berangkat




"Sebutkan apa syaratmu itu ksatria?" tanya Ratu Tania. "Jika anda ingin kami merebut kembali keempat pusaka yang tersisa dan kemudian menghancurkan Thalia, saudara kembar anda, ada tiga syarat yang harus anda penuhi. Pertama, kami ingin pasukan kerajaan ini mengawal kami dalam melakukan tugas ini. Kedua, kami ingin membawa Eternal Glove pusaka terakhir yang tersisa untuk digunakan melawan Thalia. Ketiga, pulangkan kami setelah semua ini selesai." Iceberg menyampaikan hasil diskusi kami berlima dengan bersemangat tanpa satu pun yang meleset. Iceberg mundur satu langkah dan kembali dalam barisan kami berlima. Ratu Tania menunjuk ke arah Allysa dengan dagunya kemudian sedikit mengangguk. Allysa berjalan dengan malas mendekati Ratu Tania yang sedang berdiri di depan kami. Mereka berdua berbisik membicarakan sesuatu. Setelah berbisik sebentar, Allysa pergi meninggalkan aula ini dan tak lupa tersenyum kepada kami berlima. "Sudah kujelaskan sebelumnya, ketika kelima pusaka dan kelima senjata berkumpul kalian pasti bisa pulang, tapi maaf aku tidak bisa memenuhi sisa persyaratan kalian," kata Ratu Tania menjawab syarat yang baru saja diajukan Iceberg.

05 March 2014

Eternal Glove - Part 9: Keputusan




"Orion.... ayo bangun orion....!! " aku terbangun dari tidur siangku. Ternyata Rose yang membangunkanku. Mataku masih berat untuk dibuka. "Ayo bangun dan siap-siap!! satu jam lagi kita harus menemui ratu tania di aula istana..." teriak Rose lagi dari depan pintu kamar. "Iya, iyaaaa...." jawabku sekenanya. "Dimana jack dan iceberg?" tanyaku sambil beranjak dari kasur. "Tuhh si jack lagi mandi sambil nyanyi-nyanyi gak jelas.... kalo iceberg, dia masih berlatih di lapangan bersama pasukan kerajaan." Sayup-sayup terdengar Jack sedang menyanyikan lagunya Charly Rae Jepsen yang berjudul Call Me Maybe. "Jaaaaack!! cepetan mandinya, gantian orion sama iceberg..." teriak rose lagi. "Iyaaaa...." jawab jack kemudian nyanyi lagi. Rose adalah tipe cewek yang cerewet, galak, dengan tingkat kecerdasan normal. Tapi cerewetnya si Rose ini terkadang suka bikin kangen dan lagi intuisi yang dia miliki sangat kuat. Aku suka tersenyum sendiri kalau melihat kelakuan Rose. "Gimana kalau aku mandi di kamar mandi cewek aja? kalian berdua udah mandi kan?" tanyaku mencoba mencari jalan pintas. "Eits... tidak boleh.... terlalu banyak rahasia di kamar mandi cewek yang tidak semua cowok boleh tahu," Rose pun pergi ke dalam kamar cewek. 

18 February 2014

Eternal Glove - Part 8: Keraguan




"Jadi bagaimana? maukah kalian menolong dunia ini?" tanya Ratu Tania setelah dia menyuapkan sendok terakhir sup jagungnya. "Sebelum kami menjawabnya, dari tadi anda hanya meminta tolong kepada kami... lalu apa timbal balik yang akan kami dapatkan? bagaimana jika kami gagal ditengah misi? apakah anda mau bertanggung jawab atas kematian kami?" Iceberg menjawab pertanyaan Ratu Tania dengan pertanyaan sangat keras. "Bagaimana orion? bukankah dulu kamu pernah bercerita kalau kamu pernah menghadapi *situasi seperti ini?" tanya Iceberg kepadaku. Beberapa tahun yang lalu aku memang pernah mengalami kejadian seperti ini, dan kupikir Iceberg tidak mempercayai ceritaku itu. Sepertinya sekarang dia mulai percaya. "Pertanyaanmu benar sekali Iceberg, lebih baik kita tanyakan langsung kepada ratu tania.... bagaimana ratu tania? jika misi kami telah selesai apakah kami bisa kembali pulang ke bumi dengan selamat?" tanyaku kembali kepada Ratu Tania untuk mencoba menenangkan suasana ini. Aurora, Jack, dan Rose mendengarkan dengan baik. "Baru saja aku ingin mengatakannya kepada kalian."

05 February 2014

Eternal Glove - Part 7: Takdir



Ratu Tania pun langsung mengajak kami sarapan di ruang makan istana. Setelah memasuki lobby istana, sekarang kami berjalan melewati lorong yang panjang menuju ruang makan. Dinding lorong itu dihiasi dengan lukisan wajah raja terdahulu. Sedang memperhatikan lukisan-lukisan itu Jack berbisik kepada ku, "benarkan yang aku bilang... wajah ratu tania mirip benget sama mbak-mbak SPG kemarin." 

10 January 2014

Eternal Glove - Part 6: Silver Castle




Kereta listrik yang kami tumpangi perlahan berhenti tepat diujung jembatan dengan menyisakan sedikit getaran. Gempa perlahan mulai menghilang. Suara rem kereta berderit keras memekakkan telinga. Kami pun bergegas keluar dari kereta, takut jika ada gempa susulan. Air sungai terlihat bergelombang-gelombang menerjang lima jembatan utama di kota ini. Aku memperhatikan sekitar, terlihat semuanya kembali baik-baik saja. Awan masih terlihat putih dan langit pun masih biru. Aurora berjalan menuju pinggir jembatan yang dibatasi oleh pagar batu berukir. Entah apa yang dia lakukan. Air sungai kembali tenang. Aku menghela nafas sejenak. Rose sedang memegangi leher belakang Jack yang sambil menunduk sepertinya mau muntah. Sepertinya dia kaget dengan kejadian barusan. "Ayo kita masuk kereta lagi," ajak Franco kepada kami yang masih kebingungan diatas jembatan.

07 January 2014

Eternal Glove - Part 5: Lima



"Ya, kalian adalah Ksatria Eternal," Franco mencoba meyakinkan kami lagi. Alisnya mengkerut, tampaknya dia senang melihat kami kebingungan. "Hahahahaa, mari ikut kami ke istana... diperjalanan nanti akan ku jelaskan." Franco pun berlalu bersama lima anak buahnya. Kami berlima masih kebingungan dan diam ditempat. Saling menatap dengan air muka penuh tanya. "Ayo!!" teriak Franco mengajak kami lagi dengan wajah bahagianya. Tanpa dikomando, kami pun berjalan mengikuti Franco dan pasukannya. Sambil berbisik Iceberg berkata, "ingat, mulai dari sini jangan sampai kelepasan menyebutkan nama asli..." kami semua mengangguk.