"Sebutkan apa syaratmu itu ksatria?" tanya Ratu Tania. "Jika anda ingin kami merebut kembali keempat pusaka yang tersisa dan kemudian menghancurkan Thalia, saudara kembar anda, ada tiga syarat yang harus anda penuhi. Pertama, kami ingin pasukan kerajaan ini mengawal kami dalam melakukan tugas ini. Kedua, kami ingin membawa Eternal Glove pusaka terakhir yang tersisa untuk digunakan melawan Thalia. Ketiga, pulangkan kami setelah semua ini selesai." Iceberg menyampaikan hasil diskusi kami berlima dengan bersemangat tanpa satu pun yang meleset. Iceberg mundur satu langkah dan kembali dalam barisan kami berlima. Ratu Tania menunjuk ke arah Allysa dengan dagunya kemudian sedikit mengangguk. Allysa berjalan dengan malas mendekati Ratu Tania yang sedang berdiri di depan kami. Mereka berdua berbisik membicarakan sesuatu. Setelah berbisik sebentar, Allysa pergi meninggalkan aula ini dan tak lupa tersenyum kepada kami berlima. "Sudah kujelaskan sebelumnya, ketika kelima pusaka dan kelima senjata berkumpul kalian pasti bisa pulang, tapi maaf aku tidak bisa memenuhi sisa persyaratan kalian," kata Ratu Tania menjawab syarat yang baru saja diajukan Iceberg.
"Maaf, maksud anda?" Iceberg bertanya tidak percaya. "Aku hanya bisa memenuhi syarat ketiga, Eternal Glove tidak bisa kalian bawa. Sangat berbahaya jika kalian membawa Eternal Glove, karena bisa saja ditengah jalan pasukan Thalia merebutnya. Kita tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi jika kelima pusaka berada ditangan Thalia." Paras cantik Ratu Tania terlihat menyesal menyampaikan hal itu. "Baiklah, kalau begitu, perkuatlah kami dengan pasukanmu. Walaupun tidak bisa membawa Eternal Glove, kami ingin ada pasukan yang membantu kami..." belum selesai Iceberg berbicara, Franco memotongnya, "itu juga tidak bisa nak... disini kami sangat membutuhkan pasukan untuk bertahan melawan pasukan Thalia yang menyerang bertubi-tubi." Semua wajah di aula ini nampak serius. Ratu Tania terlihat gusar, seperti sedang menunggu seseorang. "Lalu bagaimana?" tanya Iceberg lagi. Kami berempat hanya diam saja mendengarkan diskusi ini. Nampak Aurora sesekali membenarkan kacamata minusnya. Rose juga diam saja sambil sesekali memutar-mutar cincin di jari manis tangan kirinya. Jack yang berdiri di sebelah kiri Rose juga memperhatikan apa yang dilakukan Rose. Sengaja dia menyenggol tangan kiri Rose, "apaan sih?" bisik Rose sambil cemberut. "Kamu lucu kalau lagi bingung gini... hihii." Baiklah, kita tinggalkan Jack dan Rose. Pintu aula tiba-tiba terbuka. Allysa yang tadi meninggalkan aula kembali lagi bersama pria paruh baya yang tingginya hampir sama dengannya.
"Selamat sore Ratu Tania, apakah ada situasi mendesak sehingga saya dipanggil kesini?" Ucap pria paruh baya itu. Bisa dibilang badannya gendut. Lemak menggumpal dimana-mana. Perutnya besar dan kepala hampir botak. Pakaian yang dipakai sangat formal. Setelan hitam putih dengan jas hitam membalut badannya yang gendut. Tapi entah kenapa aroma ayam goreng sangat pekat tercium dari tubuhnya. "Maafkan aku Theo, kelima Ksatria Eternal sedang membutuhkan nasihatmu." Ratu Tania tersenyum kembali. "Oiya perkenalkan, dia adalah Theo Patton, ahli strategi Eternal Kingdom. Berkat ketajaman strateginya Eternal Kingdom berhasil bertahan sejauh ini." Ratu Tania memperkenalkan Theo kepada kami. Theo memperhatikan wajah kami berlima satu per satu dengan sangat serius. "Jadi kalian Ksatria Eternal itu.... Lalu, strategi seperti apa yang kalian mau?" tiba-tiba Theo melempar pertanyaan kepada kami. "Kami hanya menginginkan beberapa pasukan untuk mengawal misi kami, tapi kata Franco itu tidak bisa..." jawab Iceberg pasrah. "Itu memang tidak bisa. Kerajaan ini sangat membutuhkan pasukan untuk menjalankan strategiku melindungi Eternal Kingdom dari pasukan Thalia yang menyerang." Theo terdiam sejenak. "Tapi aku mempunyai satu alternatif untuk kalian. Rico dapat mengawal kalian dari atas dinding pembatas kota." Seakan mendapat angin segar, tapi kami masih bingung.
"Bagaimana caranya?" tanya Iceberg masih belum paham dengan yang diucapkan Theo. "Rico adalah pemanah terhebat sekaligus ketua pasukan pemanah Eternal Kingdom. Jarak panahnya bisa mencapai lima belas kilo meter dan selalu tepat sasaran. Itu sesuai dengan jarak dari Eternal Kingdom menuju garis pantai yang berbatasan dengan Savana Kingdom. Tujuan kalian adalah merebut keempat pusaka yang tersisa. Saran dariku yang pertama, rebutlah dahulu pusaka yang tertinggal di Savana Kingdom karena jaraknya lah yang paling dekat dari Eternal Kingdom ini."
"Jadi, Rico hanya bisa mengawal kami sampai ke Savana Kingdom?" tanya Iceberg memperjelas. "Betul sekali." Jawab Theo singkat. Kami berlima terdiam lagi. "Dan kalian harus tetap bergerak dalam kelompok kecil. Jika Thalia sampai tahu kalau Ksatria Riviere atau sekarang kita sebut Ksatria Eternal telah bangkit kembali, pasukannya akan berbalik dari Eternal Kingdom untuk menyerang kalian dan nyawa kalian bisa terancam."
"Aku setuju denganmu Theo," Franco pun menambahkan. "Percayalah dengan ahli strategi terhebat kami ini, dan yang terpenting, percayalah pada kekuatan kalian sendiri. Aku sebenarnya iri dengan kalian, dari kecil aku bercita-cita ingin menjadi Ksatria seperti kalian, tapi itu tidak mungkin. Aku sangat percaya kalian. Kelangsungan hidup dunia ini berada dalam tangan kalian berlima."
"Terimakasih Theo, kembalilah ke ruanganmu lagi. Maaf telah mengganggu waktu makan soremu." Ratu Tania memerintahkan Theo untuk kembali ke ruangannya lagi. "Satu lagi pesanku, sebaiknya kalian segera berangkat sekarang. Pasukan kecil Thalia akan menyerang kerajaan ini ketika matahari tenggelam. Saat itu terjadi, sebaiknya kalian telah mencapai perbatasan." Theo pun pergi meninggalkan aula.
"Jadi sudah diputuskan, kalian akan berangkat dan merebut keempat pusaka yang tersisa di reruntuhan Savana Kingdom, Costillas Kingdom, Felicano Kingdom, dan Briquette Kingdom. Ingat, misi kalian adalah itu. Setelah keempat pusaka berhasil dikumpulkan, segera kembali kemari dan jangan coba-coba mendekati Hutan Aegina karena disanalah Thalia bersembunyi." Ratu Tania membalikkan badan, melangkah kembali ke kursinya, dan berdiri di depannya. "Bagaimana Ksatria ku? kalian siap?" tanya Ratu Tania untuk terakhir kalinya. Kami berlima saling berpandangan sejenak dan berteriak secara bersamaan, "SIAAAPP!!"
"Bagus, sekarang kalian pergilah menuju pintu gerbang tempat pertama kali kalian masuk. Satu jam lagi aku akan menemui kalian di pintu gerbang Eternal City dengan membawa perbekalan yang kalian perlukan." Ratu Tania mengakhiri kata-katanya dengan senyuman untuk menyemangati kami.
"Sampai jumpa di pintu gerbang, Ratu Tania." Iceberg menunduk sedikit kemudian balik kanan dan keluar dari aula ini. Kami berempat pun mengikuti apa yang dilakukan Iceberg. Aku melambaikan tangan kepada Allysa dan dia sedikit tersenyum. Entah, sepertinya ada yang aneh dengannya.
bersambung~
Catatan:
"Maaf, maksud anda?" Iceberg bertanya tidak percaya. "Aku hanya bisa memenuhi syarat ketiga, Eternal Glove tidak bisa kalian bawa. Sangat berbahaya jika kalian membawa Eternal Glove, karena bisa saja ditengah jalan pasukan Thalia merebutnya. Kita tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi jika kelima pusaka berada ditangan Thalia." Paras cantik Ratu Tania terlihat menyesal menyampaikan hal itu. "Baiklah, kalau begitu, perkuatlah kami dengan pasukanmu. Walaupun tidak bisa membawa Eternal Glove, kami ingin ada pasukan yang membantu kami..." belum selesai Iceberg berbicara, Franco memotongnya, "itu juga tidak bisa nak... disini kami sangat membutuhkan pasukan untuk bertahan melawan pasukan Thalia yang menyerang bertubi-tubi." Semua wajah di aula ini nampak serius. Ratu Tania terlihat gusar, seperti sedang menunggu seseorang. "Lalu bagaimana?" tanya Iceberg lagi. Kami berempat hanya diam saja mendengarkan diskusi ini. Nampak Aurora sesekali membenarkan kacamata minusnya. Rose juga diam saja sambil sesekali memutar-mutar cincin di jari manis tangan kirinya. Jack yang berdiri di sebelah kiri Rose juga memperhatikan apa yang dilakukan Rose. Sengaja dia menyenggol tangan kiri Rose, "apaan sih?" bisik Rose sambil cemberut. "Kamu lucu kalau lagi bingung gini... hihii." Baiklah, kita tinggalkan Jack dan Rose. Pintu aula tiba-tiba terbuka. Allysa yang tadi meninggalkan aula kembali lagi bersama pria paruh baya yang tingginya hampir sama dengannya.
"Selamat sore Ratu Tania, apakah ada situasi mendesak sehingga saya dipanggil kesini?" Ucap pria paruh baya itu. Bisa dibilang badannya gendut. Lemak menggumpal dimana-mana. Perutnya besar dan kepala hampir botak. Pakaian yang dipakai sangat formal. Setelan hitam putih dengan jas hitam membalut badannya yang gendut. Tapi entah kenapa aroma ayam goreng sangat pekat tercium dari tubuhnya. "Maafkan aku Theo, kelima Ksatria Eternal sedang membutuhkan nasihatmu." Ratu Tania tersenyum kembali. "Oiya perkenalkan, dia adalah Theo Patton, ahli strategi Eternal Kingdom. Berkat ketajaman strateginya Eternal Kingdom berhasil bertahan sejauh ini." Ratu Tania memperkenalkan Theo kepada kami. Theo memperhatikan wajah kami berlima satu per satu dengan sangat serius. "Jadi kalian Ksatria Eternal itu.... Lalu, strategi seperti apa yang kalian mau?" tiba-tiba Theo melempar pertanyaan kepada kami. "Kami hanya menginginkan beberapa pasukan untuk mengawal misi kami, tapi kata Franco itu tidak bisa..." jawab Iceberg pasrah. "Itu memang tidak bisa. Kerajaan ini sangat membutuhkan pasukan untuk menjalankan strategiku melindungi Eternal Kingdom dari pasukan Thalia yang menyerang." Theo terdiam sejenak. "Tapi aku mempunyai satu alternatif untuk kalian. Rico dapat mengawal kalian dari atas dinding pembatas kota." Seakan mendapat angin segar, tapi kami masih bingung.
"Bagaimana caranya?" tanya Iceberg masih belum paham dengan yang diucapkan Theo. "Rico adalah pemanah terhebat sekaligus ketua pasukan pemanah Eternal Kingdom. Jarak panahnya bisa mencapai lima belas kilo meter dan selalu tepat sasaran. Itu sesuai dengan jarak dari Eternal Kingdom menuju garis pantai yang berbatasan dengan Savana Kingdom. Tujuan kalian adalah merebut keempat pusaka yang tersisa. Saran dariku yang pertama, rebutlah dahulu pusaka yang tertinggal di Savana Kingdom karena jaraknya lah yang paling dekat dari Eternal Kingdom ini."
"Jadi, Rico hanya bisa mengawal kami sampai ke Savana Kingdom?" tanya Iceberg memperjelas. "Betul sekali." Jawab Theo singkat. Kami berlima terdiam lagi. "Dan kalian harus tetap bergerak dalam kelompok kecil. Jika Thalia sampai tahu kalau Ksatria Riviere atau sekarang kita sebut Ksatria Eternal telah bangkit kembali, pasukannya akan berbalik dari Eternal Kingdom untuk menyerang kalian dan nyawa kalian bisa terancam."
"Aku setuju denganmu Theo," Franco pun menambahkan. "Percayalah dengan ahli strategi terhebat kami ini, dan yang terpenting, percayalah pada kekuatan kalian sendiri. Aku sebenarnya iri dengan kalian, dari kecil aku bercita-cita ingin menjadi Ksatria seperti kalian, tapi itu tidak mungkin. Aku sangat percaya kalian. Kelangsungan hidup dunia ini berada dalam tangan kalian berlima."
"Terimakasih Theo, kembalilah ke ruanganmu lagi. Maaf telah mengganggu waktu makan soremu." Ratu Tania memerintahkan Theo untuk kembali ke ruangannya lagi. "Satu lagi pesanku, sebaiknya kalian segera berangkat sekarang. Pasukan kecil Thalia akan menyerang kerajaan ini ketika matahari tenggelam. Saat itu terjadi, sebaiknya kalian telah mencapai perbatasan." Theo pun pergi meninggalkan aula.
"Jadi sudah diputuskan, kalian akan berangkat dan merebut keempat pusaka yang tersisa di reruntuhan Savana Kingdom, Costillas Kingdom, Felicano Kingdom, dan Briquette Kingdom. Ingat, misi kalian adalah itu. Setelah keempat pusaka berhasil dikumpulkan, segera kembali kemari dan jangan coba-coba mendekati Hutan Aegina karena disanalah Thalia bersembunyi." Ratu Tania membalikkan badan, melangkah kembali ke kursinya, dan berdiri di depannya. "Bagaimana Ksatria ku? kalian siap?" tanya Ratu Tania untuk terakhir kalinya. Kami berlima saling berpandangan sejenak dan berteriak secara bersamaan, "SIAAAPP!!"
"Bagus, sekarang kalian pergilah menuju pintu gerbang tempat pertama kali kalian masuk. Satu jam lagi aku akan menemui kalian di pintu gerbang Eternal City dengan membawa perbekalan yang kalian perlukan." Ratu Tania mengakhiri kata-katanya dengan senyuman untuk menyemangati kami.
"Sampai jumpa di pintu gerbang, Ratu Tania." Iceberg menunduk sedikit kemudian balik kanan dan keluar dari aula ini. Kami berempat pun mengikuti apa yang dilakukan Iceberg. Aku melambaikan tangan kepada Allysa dan dia sedikit tersenyum. Entah, sepertinya ada yang aneh dengannya.
bersambung~
Catatan:
- Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa dibaca disini
- Oiya... Eternal Glove sekarang udah punya akun twitter sendiri, silahkan difollow @EternalGlove
- Jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau mention ke twitter saya @anom_tanjung atau langsung ke akun twitter @EternalGlove
- Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sampai sejauh ini :)
- Sampai jumpa di tanggal 5 bulan April nanti!! bye!!
-Anom Tanjung

No comments:
Post a Comment