Matahari pagi telah mengintip dari ufuk timur. Kami berhasil menyeberangi Lautan Kabut setelah semalaman berjalan kaki melewati "Ice Path" yang dibuat oleh Iceberg. "Ahhhh akhirnya sampai," Jack langsung menjatuhkan tubuhnya di pasir pantai yang sangat putih. "Gimana kalau kita istirahat disini dulu?" tanyaku sambil duduk bersandar dibawah pohon kelapa sambil meletakkan busur panahku. Pantai ini sangatlah teduh, pohon kelapa berjajar dari ujung hingga ke ujung. Angin pagi berhembus tenang. Udara tropis sangat terasa disini, rasanya sudah berbeda dengan udara pada Pantai Kabut di seberang sana. Sinar matahari sangat hangat disini. Sinarnya menembus dedaunan pohon kelapa, menyeruak menghangatkan pasir pantai yang kami injak. "Ya, lebih baik kita istirahat dulu disini. Satu jam lagi baru kita berangkat..." ucap Iceberg menyetujui usulku.
Kami memakan perbekalan yang berada di tas ransel kami. "Hanya roti tawar, dan susu..." Rose sedikit menggerutu dengan menu sarapannya. "Tidak apa-apa Rose, aku dan Orion akan mengambil beberapa buah kelapa untuk menambah menu sarapan kita... hehe... ayo Orion!!" tiba-tiba Jack menarik tanganku yang sedang bermalasan di bawah pohon kelapa. Aurora tersenyum melihat tingkah Jack. "Bawa busur panahmu juga," kata Jack sambil melihat-lihat kelapa mana yang ingin dia ambil. "Ah yang itu!! cepat jatuhkan dengan anak panahmu!!" teriak Jack sambil menunjuk kumpulan buah kelapa berwarna hijau muda. Tanpa pikir panjang aku langsung membidik dan melepaskan anak panahku. "Tunggu!!" teriak Iceberg mengagetkan kami.
Aku lupa jika anak panahku memiliki kekuatan sihir. Semua berlalu begitu cepat. Pohon kelapa yang barusan aku bidik sudah terbakar. Api menyala, menyambar pohon kelapa di sebelahnya dan sebelahnya. Aku dan Jack hanya diam di bawah pohon kelapa yang terbakar. "Awas!!" teriak Aurora. Aku dan Jack langsung tersadar dan berlari menjauh. Sedetik kemudian buah kelapa yang terbakar berjatuhan tepat di tempat kami berdiri tadi. "Iceberg, gunakan sihir es mu untuk memadamkan, aku akan mencoba mengendalikan apinya..." Ucap Rose sambil melirik serius kepada kami berdua. Wajahnya menyeramkan. "Ice Slash!" Iceberg menebas pohon yang terbakar itu dengan pedangnya. Pohon itu langsung membeku dan tumbang. Kedua tangan Rose menengadah ke atas, dia berusaha mengendalikan api yang telah menyambar pepohonan di sebelahnya, api-api itu dikumpulkannya hingga menjadi sebuah bola api besar. Lalu dibuangnya ke arah laut dan menghantam "Ice Path". Cesssss. "Ice Path" meleleh sebagian, dan air laut mengalir lagi.
"Maafkan atas kecerobohan kami berdua..." aku meminta maaf kepada Iceberg, Rose, dan Aurora. "Sudahlah, ayo lanjutkan sarapan kalian, sebentar lagi kita harus berangkat." Ucap Iceberg sambil melahap roti tawar keduanya. Aku hanya meminum susu pagi itu, mencoba menenangkan diri. Rose masih terlihat marah. Aurora hanya tersenyum seakan menertawai kami berdua. "Hahahahahaa" Iceberg, Rose, dan Aurora tiba-tiba tertawa. Aku dan Jack kebingungan. "Tadi kamu lihat gak wajah panik mereka berdua, hahahaa lucu banget!!" Rose menertawakan kami berdua. Aku dan Jack masih saling menatap kebingungan. "Hahaa iya, tenang saja Jack, Orion, kalian gak salah kok, kita semua memang belum terbiasa dengan kekuatan ini, tapi wajah panik kalian berdua tadi memang lucu banget... hahaa". Iceberg menertawai kami juga, hahaha sial. "Hahahahahaa." Kami berlima tertawa sejenak melupakan permasalahan pelik yang sedang kami hadapi.
***
"Sudah tidak ada jalan lagi di depan, gimana ini Yudans?" Allysa bertanya kepada Yudans. Mereka berdua telah sampai ditengah "Ice Path" dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
bersambung~
Catatan:
- Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa dibaca disini
- Jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau mention ke twitter saya @anom_tanjung atau langsung ke akun twitter @EternalGlove
- Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sampai sejauh ini :)
- Sampai jumpa di tanggal 18 bulan Juni!! bye!!
- Anom Tanjung

No comments:
Post a Comment