Iceberg memegang erat pedangnya dengan kedua tangannya. Nafasnya tersengal-sengal. Begitu pula nafasku. Keringat dingin menetes bercucuran. "Bersiaplah Orion, setelah ku tebas kaki kirinya dengan pedangku, segera luncurkan anak panahmu kesana," kata Iceberg yang berdiri di seberang kanan ku sambil setengah berteriak. "Baiklah..." aku pun langsung menyiapkan anak panah dan merentangkan busur panahku menuju ke sasaran yang diperintahkan Iceberg. Iceberg menarik nafas dalam-dalam, kedua tangannya yang menggenggam pedang kini berada di sisi kanan kepalanya, "SEKARANG!!" Iceberg berlari ke arah Golem.
***
Satu jam yang lalu
Aku melepaskan kuda-kuda yang telah mengantar kami sampai ke pantai ini. Mereka berlima berlari kembali ke arah Eternal Kingdom. Setelah dirundingkan, para kuda sepertinya akan kesulitan ketika berjalan diatas es. Kami pun memutuskan berjalan kaki untuk menyeberangi Lautan Kabut yang telah dibekukan Iceberg menjadi hamparan es. Perbekalan yang berada di kantong pinggang kiri para kuda telah kami ambil. Iceberg, Rose, Jack, Aurora telah mengenakan tas ransel mereka masing-masing. Tas ransel itu kami dapatkan dari dalam kantong pinggang kanan para kuda. Aku pun mulai memakai tas ransel ku dan berjalan ke arah mereka berempat yang telah bersiap di bibir pantai. "Gimana Orion? sudah kau lepaskan semua?" Iceberg menanyakan kepadaku perihal para kuda. "Udah, semoga mereka bisa balik ke Eternal Kingdom. Kita berangkat sekarang?" Aku mencoba menanyakan kembali. Tadi telah diputuskan bahwa kami akan langsung berangkat menyeberangi Lautan Kabut malam ini juga, karena jika harus menunggu pagi disini akan berbahaya. Rico juga sudah tidak bisa melindungi kami. "Ya, mari berangkat sekarang... usahakan jangan sampai terpisah... jika sampai terpisah, gunakan kode nama asli kalian sebagai konfirmasi." Kata Iceberg sambil berjalan menuju Lautan Kabut yang telah dibekukan olehnya.
Jack berjalan di depan bersama Iceberg, aku berada di belakang bersama Aurora dan Rose. Kami berlima berjalan menyusuri daratan es ini dengan terus berwaspada. Jarak pandang kami hanya lima meter ke depan, setelah itu hanya kabut tebal yang terlihat. "Ice... tadi sewaktu membekukan lautan ini kamu seperti meneriakkan sesuatu... apakah itu maksudnya nama jurusmu?" tanya Jack penasaran. "I... iya..." jawab Iceberg ragu. "Oh ya? dari mana kamu dapet nama itu? hahaa," tanya Jack menggoda Iceberg. "I... itu hanya menyesuaikan dengan sihir yang akan kugunakan... haha." Iceberg mencoba menertawakan dirinya sendiri, sungguh kejadian yang sangat langka. "Hahahaha," kami pun tertawa bersama.
"Lalu Jack, kenapa tadi kamu bisa tertidur diatas kuda?" tanyaku penasaran. "Ahh soal itu... hehehe... gak tau, kuda nya terlalu nyaman ketika dinaiki... aku sampai ketiduran... hehe.." jawab Jack sambil menggaruk kepalanya. "Ahh alasan aja kamu Jack!! mana mungkin ........ ......." Rose memarahi Jack lagi. Jika dipikir lagi, memang benar yang diucapkan Jack. Bahkan ketika menaiki kuda tadi, rambutku sama sekali tidak diterpa angin.
"Sudah cukup Rose, coba sekarang lemparkan bola api ke depan sana." Iceberg menunjuk ke arah depan. "Baiklah," kata Rose menyanggupi. Kami berempat sejenak berhenti berjalan dan Rose berjalan ke depan. Dia berhenti dua kaki di depan Jack dan Iceberg. Rose menunduk sebentar seperti memikirkan sesuatu. Tangan kirinya diayunkan ke belakang sedikit, jari-jari tangannya merenggang, kemudian diayunkan ke arah depan dengan cepat sambil berteriak, "FIREBALL!!!" Bola api sebesar bola basket keluar dari tangan kirinya dan melaju kencang membelah kabut tebal yang ada di depan. "DUAARRR!!" Terdengar suara letusan keras di depan sana.
"Hah suara apa itu??" tanya Rose ketakutan. Aku mencoba waspada dengan terus melihat ke depan. "Tenang Rose, itu pasti cuma..." belum selesai Jack berbicara, kepalanya terkena bongkahan es sebesar bola baseball. "Jack!!" teriak ku. Jack pingsan di hadapan kami. "Kalian semua waspadalah!!" Iceberg berteriak memberi komando. Reruntuhan bongkahan es menuju ke arah kami, dan kami bisa menghindarinya. "Groaaaarrrr!!" terdengar sesuatu sedang mengaum. Sepertinya marah. Ah mana mungkin, pikirku. "Aurora! Rose! rawat luka Jack!!" Aurora dan Rose langsung menyeret tubuh Jack yang berdaya ke belakang. "Orion!! bantu aku di depan!!" Iceberg mencabut pedangnya dari sarungnya. Aku maju ke depan dan menyiapkan seperangkat alat panahku.
Dari tumpukan kabut yang tebal di depan muncul bayangan makhluk yang sangat besar. Masih belum terlihat jelas bagaimana bentuknya. Dia mengaum lagi "Groaaarrrr!! Aappaaa yaang kaliaaann lakukaann dii laaauutannkkuu...." suara makhluk itu bergetar. Karena kabut yang sangat tebal, hanya terlihat bayangan hitam yang tinggi dan besar, sebesar rumah dua lantai. Dua mata merah menyala terlihat berjalan mendekati kami. Aku takut, kaki ku bergetar. Iceberg mencoba untuk berdiri tangguh. Terdengar suara es yang hancur setiap kali makhluk ini melangkah.
"Siapa kau?!!" Iceberg bertanya sekaligus menantang. Iceberg memang sangat buruk ketika bernegosiasi. Makhluk itu melangkah lagi, semakin dekat, semakin dekat hingga hanya berjarak sepuluh meter dari kami. Kini perawakannya terlihat jelas. "Aaakkkuuu Gooolleeemmm, penjaaaggaaaa laaauuutttaannn inniiii...." Suaranya bergetar. Tubuhnya terbuat dari kumpulan bebatuan sungai dan laut. Matanya merah menyala. Giginya terbuat dari kumpulan bebatuan sebesar genggaman tangan. Mulutnya pun terbuat dari batu. Bahunya memiliki lubang-lubang kecil, dari lubang itu mengeluarkan asap putih yang sangat pekat, begitupun mulutnya. Apakah mungkin dia penyebab kabut yang ada di Lautan Kabut ini?
"Kaaliaaannn teellaaahhhh mengganggguuuuu tidurkuuu..." bersamaan dengan kalimatnya berakhir, dia mengayunkan lengan kanannya ke arah kami berdua. Aku melompat ke kiri dan Iceberg ke kanan, "Duaaarrr!!" pijakan es yang kami injak tadi hancur.
Iceberg memegang erat pedangnya dengan kedua tangannya. Nafasnya tersengal-sengal. Begitu pula nafasku. Keringat dingin menetes bercucuran. "Bersiaplah Orion, setelah ku tebas kaki kirinya dengan pedangku, segera luncurkan anak panahmu kesana," kata Iceberg yang berdiri di seberang kanan ku sambil setengah berteriak. "Baiklah..." aku pun langsung menyiapkan anak panah dan merentangkan busur panahku menuju ke sasaran yang diperintahkan Iceberg. Iceberg menarik nafas dalam-dalam, kedua tangannya yang menggenggam pedang kini berada di sisi kanan kepalanya, "SEKARANG!!" Iceberg berlari ke arah Golem.
"Hah suara apa itu??" tanya Rose ketakutan. Aku mencoba waspada dengan terus melihat ke depan. "Tenang Rose, itu pasti cuma..." belum selesai Jack berbicara, kepalanya terkena bongkahan es sebesar bola baseball. "Jack!!" teriak ku. Jack pingsan di hadapan kami. "Kalian semua waspadalah!!" Iceberg berteriak memberi komando. Reruntuhan bongkahan es menuju ke arah kami, dan kami bisa menghindarinya. "Groaaaarrrr!!" terdengar sesuatu sedang mengaum. Sepertinya marah. Ah mana mungkin, pikirku. "Aurora! Rose! rawat luka Jack!!" Aurora dan Rose langsung menyeret tubuh Jack yang berdaya ke belakang. "Orion!! bantu aku di depan!!" Iceberg mencabut pedangnya dari sarungnya. Aku maju ke depan dan menyiapkan seperangkat alat panahku.
Dari tumpukan kabut yang tebal di depan muncul bayangan makhluk yang sangat besar. Masih belum terlihat jelas bagaimana bentuknya. Dia mengaum lagi "Groaaarrrr!! Aappaaa yaang kaliaaann lakukaann dii laaauutannkkuu...." suara makhluk itu bergetar. Karena kabut yang sangat tebal, hanya terlihat bayangan hitam yang tinggi dan besar, sebesar rumah dua lantai. Dua mata merah menyala terlihat berjalan mendekati kami. Aku takut, kaki ku bergetar. Iceberg mencoba untuk berdiri tangguh. Terdengar suara es yang hancur setiap kali makhluk ini melangkah.
"Siapa kau?!!" Iceberg bertanya sekaligus menantang. Iceberg memang sangat buruk ketika bernegosiasi. Makhluk itu melangkah lagi, semakin dekat, semakin dekat hingga hanya berjarak sepuluh meter dari kami. Kini perawakannya terlihat jelas. "Aaakkkuuu Gooolleeemmm, penjaaaggaaaa laaauuutttaannn inniiii...." Suaranya bergetar. Tubuhnya terbuat dari kumpulan bebatuan sungai dan laut. Matanya merah menyala. Giginya terbuat dari kumpulan bebatuan sebesar genggaman tangan. Mulutnya pun terbuat dari batu. Bahunya memiliki lubang-lubang kecil, dari lubang itu mengeluarkan asap putih yang sangat pekat, begitupun mulutnya. Apakah mungkin dia penyebab kabut yang ada di Lautan Kabut ini?
"Kaaliaaannn teellaaahhhh mengganggguuuuu tidurkuuu..." bersamaan dengan kalimatnya berakhir, dia mengayunkan lengan kanannya ke arah kami berdua. Aku melompat ke kiri dan Iceberg ke kanan, "Duaaarrr!!" pijakan es yang kami injak tadi hancur.
Iceberg memegang erat pedangnya dengan kedua tangannya. Nafasnya tersengal-sengal. Begitu pula nafasku. Keringat dingin menetes bercucuran. "Bersiaplah Orion, setelah ku tebas kaki kirinya dengan pedangku, segera luncurkan anak panahmu kesana," kata Iceberg yang berdiri di seberang kanan ku sambil setengah berteriak. "Baiklah..." aku pun langsung menyiapkan anak panah dan merentangkan busur panahku menuju ke sasaran yang diperintahkan Iceberg. Iceberg menarik nafas dalam-dalam, kedua tangannya yang menggenggam pedang kini berada di sisi kanan kepalanya, "SEKARANG!!" Iceberg berlari ke arah Golem.
bersambung~
Catatan:
- Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa dibaca disini
- Jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau mention ke twitter saya @anom_tanjung atau langsung ke akun twitter @EternalGlove
- Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sampai sejauh ini :)
- Sampai jumpa di tanggal 18 Mei nanti!! bye!!
- Anom Tanjung

No comments:
Post a Comment