Kami telah selesai berolah raga untuk meregangkan otot sejenak. Aku berdiri menatap lautan lepas. Tidak lama lagi kami akan meninggalkan pantai ini. Mimpi yang barusan aku simpan rapat-rapat dalam ingatan. Semoga itu hanya mimpi. "Kamu dari tadi diam aja Orion... ada yang salah?" Aurora membuyarkan lamunanku. "Ahh gakpapa kok, cuma mikirin abis ini kita harus kemana... abis ini kita kemana Iceberg?" Ku coba untuk mengalihkan pembicaraanku dengan Aurora.
Iceberg membuka gulungan peta yang diberikan oleh Franco ketika kami berangkat tadi sore. "Dalam peta ini dituliskan kita harus langsung menuju ke Istana Savana Kingdom yang telah dikuasai oleh salah satu jendral Thalia dan merebut kembali Savana Crown. Bagaimana menurutmu?" Aku mendekati Iceberg. "Coba aku lihat peta-nya..." Iceberg memberikan peta-nya kepada ku. "Dari posisi kita sekarang ini, pusat kerajaan Savana Kingdom ada di tengah-tengah pulau ini. Berarti kita harus berjalan ke selatan melewati hutan kelapa dan padang rumput yang sangat luas setelahnya. Aku rasa ini sangat berbahaya buat kita." Aku mencoba menganalisis keadaan yang sedang terjadi. "Berbahaya? kenapa berbahaya?" tanya Rose sambil mendekat. "Kita gak tau sama sekali kekuatan musuh, dan berjalan melewati hutan bukanlah pilihan yang bijak. Bisa-bisa kita malah disergap oleh musuh di dalam hutan." Rose memutar-mutar cincinnya sambil memikirkan jawabanku. Iceberg juga memikirkan kembali strategi yang telah ditulis di peta. "Lalu, kau ada usul?" Tanya Iceberg kepada ku.
"Aku ada usul, tapi aku ingin kita membicarakannya berdua saja." Aku dan Iceberg menyingkir dari Jack, Rose, dan Aurora. Aku menjelaskan strategiku kepada Iceberg, dan menceritakan tentang mimpiku tadi kepadanya. Iceberg hanya menjawab, "Baiklah, kita lanjutkan perjalanan ini sesuai dengan strategimu itu. Untuk mimpimu, jangan kau ceritakan dulu kepada yang lain." Aku hanya mengangguk, kemudian terdiam.
***
Kami telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Mantel ajaib -begitu kami menyebutnya- telah kami kenakan kembali. Tas ransel yang berisi perbekalan juga telah kami pakai. Entah cukup untuk berapa hari lagi perbekalan yang kami bawa ini. "Semua sudah siap? Ayo kita berangkat ke Desa Savana." Sesuai dengan usulku, kami menghindari hutan dan memilih berjalan ke arah timur menuju ke Desa Savana. Bukannya menghindari Istana Savana Kingdom, tapi kami harus mencari informasi terlebih dahulu tentang apa yang berada di Istana tersebut dan kami bisa beristirahat sebentar atau bahkan bermalam di desa itu.
Kami berjalan dengan posisi Iceberg dan Aurora di depan, sadangkan Aku, Jack, dan Rose di belakang. Menurut kami, inilah formasi terbaik jika tiba-tiba ada sergapan dari musuh. Kami terus berjalan meninggalkan jejak kaki di pasir, yang kemudian dihapus oleh desiran ombak yang menyapu pantai.
Desa Savana terletak diujung timur pulau ini, untuk sampai kesana kami cukup berjalan kaki ke arah timur dan menyeberangi sebuah sungai kecil. Menurut perhitunganku, kami akan mencapai sungai itu pada siang hari. "Hei coba lihat, kalau dilihat-lihat pulau ini bentuknya sama kayak benua Afrika ya...." kata Jack yang dari berangkat tadi terus memperhatikan peta-nya. Jack yang berjalan di sampingku memperlihatkan peta-nya kepada ku. Ah benar juga, pikirku. "Coba lihat, Felicano Kingdom ini kalau di bumi pasti letaknya di benua Australia... hahaa." Jack menunjuk dimana Felicano Kingdom berada. "Apasih kamu ini Jack... ayo simpan peta milikmu, jangan sampai hilang!!" bentak Rose mengingatkan Jack untuk tidak ceroboh. Aku mengembalikan peta milik Jack kemudian dia merapikan peta-nya kembali untuk dimasukkan kedalam tas ransel. "Sssssttt, kalian diamlah." Iceberg berbisik. Tak terasa kami sudah sampai di ujung pantai. Pemandangan di depan kami sudah bukan pasir putih yang lembut.
Mata kami terbelalak karena hanya ada bebatuan terjal disana. Batu-batu besar yang menghitam bertumpuk banyak sekali hingga ketinggian dua meter. Air laut menghempas bebatuan yang ada di tepian laut. Lumut berwarna hijau dan cokelat menghiasi bebatuan itu. Mau tidak mau kami harus memanjatnya sedikit untuk melanjutkan perjalanan. Yang lebih mengejutkan lagi, diatas bebatuan itu telah berdiri beberapa sosok tubuh. Tidak banyak, tetapi jumlahnya melebihi jumlah kami. Jika dilihat dari bentuk tubuhnya, sepertinya mereka bukan manusia.
bersambung~
Catatan:
- Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa dibaca disini
- Jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau mention ke twitter saya @anom_tanjung atau langsung ke akun twitter @EternalGlove
- Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sampai sejauh ini :)
- Sampai jumpa di tanggal 18 bulan Juli!! bye!!
- Anom Tanjung

No comments:
Post a Comment