18 May 2014

Eternal Glove - Part 14: Kenyataan




Iceberg berlari ke arah Golem. Dia mengayunkan pedangnya ke kaki kiri Golem. "ICE SLASH!!" kaki kiri Golem membeku karena tebasan pedang Iceberg. "Groaaarrrgghhhh," Golem berteriak marah karena kakinya membeku. "Sekarang Orion!!" teriak Iceberg sambil meloncat menghindari ayunan tangan kanan Golem. Aku membidik kaki kiri Golem yang membeku dengan panahku. Golem kesulitan bergerak karena kaki kirinya telah membeku. Ukuran tubuh Golem terlalu besar, sangat mudah membidiknya. Dengan tarikan nafas panjang aku melepaskan anak panahku. Api berkobar di ujungnya, anak panahku melesat dengan cepat ke arah Golem. Crakk. menancap tepat di kaki kiri Golem yang membeku dan dalam sekejap kaki itu meleleh karena api yang dikeluarkan oleh anak panahku. "Aaaaaaarrrggghhhh," teriak Golem kesakitan. 


"Bagus!!", teriakku dalam hati. "Orion!! tangan kirinya!!" teriak Iceberg lagi. Aku tersadar dari bahagiaku yang sesaat. Iceberg sedang menahan tangan kiri Golem yang telah membeku dengan pedangnya. Golem yang sedang terdesak pun dengan cepat mengayunkan tangan kanannya ke arah Iceberg. Dengan sigap Iceberg meloncat ke belakang dan ayunan tangan kanan Golem menghantam tangan kirinya sendiri yang telah membeku. Belum sempat aku melepaskan anak panahku, tangan kiri Golem telah hancur karena hantaman tangan kanannya sendiri yang terbuat dari batu yang sangat keras. "Uaaarrrggghhh", teriak Golem kesakitan. Iceberg yang diatas angin langsung berlari ke depan dan menebas tangan kanan Golem yang sedang lengah. Kini tangan kanannya pun membeku tak berdaya. "Cepat Orion!!" teriak Iceberg untuk kesekian kalinya. Aku telah siap melepaskan anak panahku. Belum sempat kulepas anak panahku, Golem berteriak, "cukuuuupppp, hentikaaaannn pertaruungaaannn iniiii Ksaatriaaaa Riiviierreeeee...." suaranya masih bergetar. Aku menurunkan kedua tanganku yang dari tadi meregangkan busur dan anak panah. Iceberg berdiri terdiam di depan Golem.

***

Golem tidak mengamuk lagi. Sorot matanya kini berubah warna menjadi biru muda. Kami berlima mendekat ke arah Golem. Jack sudah sadarkan diri tetapi dia masih terduduk sambil kepalanya masih disembuhkan oleh Aurora. "Aku adalah makhluk ciptaan Ksatria Savana, sang penyihir hebat." Ucap Golem membuka pembicaraan dengan kami. Suaranya sudah tidak bergetar lagi, mungkin karena dia sudah tidak marah. "Ksatria Savana? maksudmu pendahulu Rose?" tanya Iceberg sambil melihat ke arah Rose. Rose hanya terdiam. "Ya, benar..." jawab Golem singkat. "Tapi, bagaimana kami bisa percaya denganmu?" tanya Iceberg yang masih bersiaga dengan pedangnya. "Jika kalian tidak percaya denganku, coba lihatlah ke bagian belakang kepalaku. Disana ada Elemental Stone Tanah." jawab Golem mencoba meyakinkan kami. "Elemental Stone?" tanya Rose kepada Golem. "Kau tidak tahu? 'Elemental Stone' adalah batu permata warna-warni yang masing-masing memiliki kekuatan unsur alam. Ada 5 macam Elemental Stone, yaitu merah untuk api, cokelat untuk tanah, biru untuk air, hijau untuk angin, dan kuning untuk petir."  Kami semua mendengarkan dengan seksama. "Jadi, yang aku miliki sekarang hanya Elemental Stone Api?" Rose melihat cincinnya.

Iceberg telah berada di belakang kepala Golem, dia mencari apa yang dijelaskan Golem tadi. "Ketemu!!" teriak Iceberg. "Ambilah, dan berikan kepada Ksatria Savana, kini kau bisa menggunakan kekuatan elemen tanah." Iceberg melemparkan Elemental Stone Tanah ke arah Rose. Rose menangkapnya. "Pasangkan di sebelah Elemental Stone Api agar kau bisa melakukan sihir gabungan antara elemen tanah dan elemen api." Rose memasang Elemental Stone Tanah di cincinnya, di sebelah Elemental Stone Api sesuai instruksi Golem.

"Lalu untuk apa Ksatria Savana terdahulu menciptakanmu?" tanya Iceberg sambil melompat turun dari tubuh Golem. "Ksatria Savana terdahulu menciptakanku dengan menggunakan Elemental Stone Tanah untuk menjaga perairan ini dan untuk bertemu kemudian 'menyerahkannya' kepadamu." Golem memandangi wajah Rose. "Masih tersisa tiga monster Elemental Stone, mereka bertiga berada di sekitar istana Savana Kingdom menjaga Savana Crown yang berada di dalam istana. Berhati-hatilah, mereka memiliki kepribadian yang berbeda." Tubuh Golem perlahan runtuh menjadi batuan kecil. "Golem, tubuhmu?" tanya Rose tidak tega melihatnya. "Tugasku disini sudah selesai, sampai jumpa lagi Ksatria Savana... Rose..." Perlahan-lahan tubuhnya meruntuh menjadi serpihan batu kecil. Sorot mata birunya telah menghilang. Mungkin karena Elemental Stone Tanah telah diambil dari tubuhnya, hawa kehidupannya jadi menghilang. Kini Golem hanyalah bongkahan batu kecil-kecil yang perlahan berjatuhan ke dasar lautan kabut. 

***

Dari dalam kegelapan Istana Eternal Kingdom

"Kalian berdua, ikuti dan awasi mereka". Kata seorang pria yang berdiri menghadap ke tembok. Hanya terlihat sebuah bayangan yang berdiri tegap. "Siap!!", jawab Yudans dan Allysa....

bersambung~


Bonus Content:



Catatan:
  1. Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa dibaca disini
  2. Jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau mention ke twitter saya @anom_tanjung atau langsung ke akun twitter @EternalGlove
  3. Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sampai sejauh ini :)
  4. Sampai jumpa di tanggal 5 Juni nanti!! bye!!

Credit:


  1. Anom Tanjung - Author
  2. Louis Cahyo - Ilustrator





No comments:

Post a Comment