Kereta listrik yang kami tumpangi perlahan berhenti tepat diujung jembatan dengan menyisakan sedikit getaran. Gempa perlahan mulai menghilang. Suara rem kereta berderit keras memekakkan telinga. Kami pun bergegas keluar dari kereta, takut jika ada gempa susulan. Air sungai terlihat bergelombang-gelombang menerjang lima jembatan utama di kota ini. Aku memperhatikan sekitar, terlihat semuanya kembali baik-baik saja. Awan masih terlihat putih dan langit pun masih biru. Aurora berjalan menuju pinggir jembatan yang dibatasi oleh pagar batu berukir. Entah apa yang dia lakukan. Air sungai kembali tenang. Aku menghela nafas sejenak. Rose sedang memegangi leher belakang Jack yang sambil menunduk sepertinya mau muntah. Sepertinya dia kaget dengan kejadian barusan. "Ayo kita masuk kereta lagi," ajak Franco kepada kami yang masih kebingungan diatas jembatan.
Kami semua sudah masuk ke dalam kereta lagi. Sebelum masuk ke kereta tadi Aurora sempat menunjukkan kepadaku ada retakan-retakan kecil di pagar jembatan. Aku hanya mengamati sekilas, lalu masuk kedalam kereta. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan jembatan ini. Kali ini semua terdiam di dalam kereta. Franco duduk di depan bersama masinis, sepertinya dia tidak ingin diajak bicara dahulu. Iceberg juga duduk di belakang bersama dengan prajurit kerajaan, entah apa yang sedang dia pikirkan. Jack hanya terdiam didekat jendela sebelah kanan, sepertinya dia masih mual. "Menurutmu tadi gempa apa rose?" tanya Aurora disebelahku. "Mana ku tahu, kita kan sama-sama pendatang disini," jawab Rose yang berdiri ditengah kereta sambil berpegangan besi di langit-langit kereta. "Yaaaaa, aku cuma tanya pendapatmu..... kalo menurutmu gimana?" tanya Aurora sambil melihat ke arahku. "Menurutku? menurutku gempa barusan gara-gara erupsi gunung berapi yang masih aktif... eh tapi disini ada gunung berapi gak sih? hahahaa..." semuanya masih terdiam, dan aku tertawa sendiri. "Ya itu bisa jadi sih, mungkin memang disini ada gunung berapi yang masih aktif," Aurora mencoba menyimpulkan sendiri. Kemudian kami semua terdiam lagi.
Aurora duduk disebelahku sambil memegangi tongkatnya yang dia tegakkan keatas dengan bertumpu dilantai kereta. Aku jadi teringat tentang senjata dan kehebatan para ksatria yang diceritakan Franco tadi. Tongkat milik Aurora berwarna putih dan terbuat dari logam dengan panjang sekitar satu setengah meter. Kedua ujungnya tumpul dan masing-masing memiliki ukiran berwarna hijau muda seperti tumbuhan yang melilit menuju ke bagian tengah tongkat. Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh tongkat itu, Franco pun tidak tahu. Aku beralih ke cincin yang dikenakan Rose. Cincin yang dikenakan Rose di jari manis tangan kirinya terlihat seperti cincin biasa. Berwarna emas dengan satu batu permata berwarna merah dan dua lubang di masing-masing sisinya. Sepertinya kekuatan sihir milik Rose berasal dari cincin itu. Aku jadi teringat semalam ketika kami akan memasuki kota tiba-tiba ada bola api yang menyerang kami, dan ternyata itu adalah serangan dari Rose. Untung saja Iceberg dengan pedang es nya bisa menghalau bola api itu.
Kereta kembali berhenti. Akhirnya kami sampai di stasiun tujuan. Kami semua turun dan Franco langsung mengarahkan kami untuk segera naik ke dalam kereta kuda yang telah disiapkan di depan stasiun. Ada dua kereta kuda, kami berlima bersama Franco menaiki kereta yang pertama, dan para prajurit kerajaan menaiki kereta yang kedua. Kami menuju istana kerajaan dengan menggunakan kereta kuda ini. Kereta kuda ini berjalan dengan santai melewati rumah penduduk. Perumahan disini terlihat lebih mewah daripada perumahan yang ada diseberang sungai tadi. Entah apa karena disini dekat dengan istana sehingga hidup mereka lebih terjamin. Warga yang sedang berjalan diluar memperhatikan kereta kami. Mereka penasaran, ada siapa sebenarnya didalam kereta ini.
"Ini adalah wilayah ibukota dari kota Eternal, makanya disini terlihat lebih megah dan ramai daripada kota diseberang sungai tempat kalian datang tadi," Franco mulai angkat bicara karena dia melihat kami terkesima dengan gaya arsitektur kota ini. "Bisa dibilang disini adalah wilayah milik masyarakat kelas menengah keatas dan semua yang dibutuhkan masyarakat ada disini. Para keluarga dari prajurit kerajaan juga tinggal di ibukota ini untuk memudahkan mereka dalam bertemu keluarga dan bertugas untuk kerajaan." Kami berlima hanya mendengarkan dan melihat keluar jendela lagi. Setelah melalui beberapa blok perumahan yang sepertinya ditinggali oleh keluarga prajurit kerajaan akhirnya kami sampai di depan gerbang istana Eternal Kingdom. Gerbang istana segera dibuka ketika kereta kami hampir sampai. Setelah melalui gerbang kami langsung melewati sebuah jalan lurus yang langsung menuju ke istana. Istana itu terlihat megah dengan dinding yang berwarna perak alami dari bebatuan yang memantulkan sinar matahari siang itu. Garis-garis emas yang dibuat hanya untuk pemanis istana agar terlihat lebih elegan.
"Franco, mengenai gempa tadi... menurutmu itu berasal dari mana? apakah berasal dari erupsi gunung berapi didekat sini?" tanya Iceberg sebelum kereta berhenti di depan lobby istana. "Soal itu biar ratu tania yang menjawabnya nanti," Franco kembali tersenyum halus.
Kereta kuda yang kami naiki akhirnya berhenti di depan lobby istana. Aku melihat ada sesosok wanita yang berdiri disana dengan dikawal beberapa prajurit kerajaan. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi entah dimana. Dia memakai gaun berwarna perak dengan belahan dada rendah dan beberapa motif bunga mawar yang juga berwarna perak di sekitar bahunya dan dibagian bawah gaun. Ah mungkin cuma mirip, pikirku dalam hati. Franco turun dan diikuti oleh kami berlima. "Selamat pagi ratu tania!!" ucap Franco dan kemudian dia berlutut didepannya. "Sudah berdirilah Franco, selamat datang para ksatria ku...." ucap Ratu Tania. Senyumnya manis, dan wajahnya cantik terawat. Menurutku umurnya masih sekitar tiga puluh tahunan. Masih terlalu muda untuk menjadi seorang ratu. Kami semua hanya menunduk dan tersenyum.
"Aaahh!! kamu kan mbak-mbak SPG yang menjual flash drive kepada kami kemarin!!!" teriak Jack dari belakang. Ternyata dia baru turun dari kereta kuda dan sepertinya dia masih mabuk gara-gara gempa di atas jembatan tadi. Kami berempat kebingungan melihat Jack berteriak seperti itu kepada Ratu Tania. Tapi benar yang diteriakkan Jack, wajah Ratu Tania memang mirip dengan mbak-mbak SPG yang kemarin. Tapi seingatku warna rambutnya berbeda. Ratu Tania berambut pirang keemasan, sedangkan mbak-mbak SPG yang kemarin berambut hitam berkilau. Entahlah.
bersambung~
Kami semua sudah masuk ke dalam kereta lagi. Sebelum masuk ke kereta tadi Aurora sempat menunjukkan kepadaku ada retakan-retakan kecil di pagar jembatan. Aku hanya mengamati sekilas, lalu masuk kedalam kereta. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan jembatan ini. Kali ini semua terdiam di dalam kereta. Franco duduk di depan bersama masinis, sepertinya dia tidak ingin diajak bicara dahulu. Iceberg juga duduk di belakang bersama dengan prajurit kerajaan, entah apa yang sedang dia pikirkan. Jack hanya terdiam didekat jendela sebelah kanan, sepertinya dia masih mual. "Menurutmu tadi gempa apa rose?" tanya Aurora disebelahku. "Mana ku tahu, kita kan sama-sama pendatang disini," jawab Rose yang berdiri ditengah kereta sambil berpegangan besi di langit-langit kereta. "Yaaaaa, aku cuma tanya pendapatmu..... kalo menurutmu gimana?" tanya Aurora sambil melihat ke arahku. "Menurutku? menurutku gempa barusan gara-gara erupsi gunung berapi yang masih aktif... eh tapi disini ada gunung berapi gak sih? hahahaa..." semuanya masih terdiam, dan aku tertawa sendiri. "Ya itu bisa jadi sih, mungkin memang disini ada gunung berapi yang masih aktif," Aurora mencoba menyimpulkan sendiri. Kemudian kami semua terdiam lagi.
Aurora duduk disebelahku sambil memegangi tongkatnya yang dia tegakkan keatas dengan bertumpu dilantai kereta. Aku jadi teringat tentang senjata dan kehebatan para ksatria yang diceritakan Franco tadi. Tongkat milik Aurora berwarna putih dan terbuat dari logam dengan panjang sekitar satu setengah meter. Kedua ujungnya tumpul dan masing-masing memiliki ukiran berwarna hijau muda seperti tumbuhan yang melilit menuju ke bagian tengah tongkat. Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh tongkat itu, Franco pun tidak tahu. Aku beralih ke cincin yang dikenakan Rose. Cincin yang dikenakan Rose di jari manis tangan kirinya terlihat seperti cincin biasa. Berwarna emas dengan satu batu permata berwarna merah dan dua lubang di masing-masing sisinya. Sepertinya kekuatan sihir milik Rose berasal dari cincin itu. Aku jadi teringat semalam ketika kami akan memasuki kota tiba-tiba ada bola api yang menyerang kami, dan ternyata itu adalah serangan dari Rose. Untung saja Iceberg dengan pedang es nya bisa menghalau bola api itu.
Kereta kembali berhenti. Akhirnya kami sampai di stasiun tujuan. Kami semua turun dan Franco langsung mengarahkan kami untuk segera naik ke dalam kereta kuda yang telah disiapkan di depan stasiun. Ada dua kereta kuda, kami berlima bersama Franco menaiki kereta yang pertama, dan para prajurit kerajaan menaiki kereta yang kedua. Kami menuju istana kerajaan dengan menggunakan kereta kuda ini. Kereta kuda ini berjalan dengan santai melewati rumah penduduk. Perumahan disini terlihat lebih mewah daripada perumahan yang ada diseberang sungai tadi. Entah apa karena disini dekat dengan istana sehingga hidup mereka lebih terjamin. Warga yang sedang berjalan diluar memperhatikan kereta kami. Mereka penasaran, ada siapa sebenarnya didalam kereta ini.
"Ini adalah wilayah ibukota dari kota Eternal, makanya disini terlihat lebih megah dan ramai daripada kota diseberang sungai tempat kalian datang tadi," Franco mulai angkat bicara karena dia melihat kami terkesima dengan gaya arsitektur kota ini. "Bisa dibilang disini adalah wilayah milik masyarakat kelas menengah keatas dan semua yang dibutuhkan masyarakat ada disini. Para keluarga dari prajurit kerajaan juga tinggal di ibukota ini untuk memudahkan mereka dalam bertemu keluarga dan bertugas untuk kerajaan." Kami berlima hanya mendengarkan dan melihat keluar jendela lagi. Setelah melalui beberapa blok perumahan yang sepertinya ditinggali oleh keluarga prajurit kerajaan akhirnya kami sampai di depan gerbang istana Eternal Kingdom. Gerbang istana segera dibuka ketika kereta kami hampir sampai. Setelah melalui gerbang kami langsung melewati sebuah jalan lurus yang langsung menuju ke istana. Istana itu terlihat megah dengan dinding yang berwarna perak alami dari bebatuan yang memantulkan sinar matahari siang itu. Garis-garis emas yang dibuat hanya untuk pemanis istana agar terlihat lebih elegan.
"Franco, mengenai gempa tadi... menurutmu itu berasal dari mana? apakah berasal dari erupsi gunung berapi didekat sini?" tanya Iceberg sebelum kereta berhenti di depan lobby istana. "Soal itu biar ratu tania yang menjawabnya nanti," Franco kembali tersenyum halus.
Kereta kuda yang kami naiki akhirnya berhenti di depan lobby istana. Aku melihat ada sesosok wanita yang berdiri disana dengan dikawal beberapa prajurit kerajaan. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi entah dimana. Dia memakai gaun berwarna perak dengan belahan dada rendah dan beberapa motif bunga mawar yang juga berwarna perak di sekitar bahunya dan dibagian bawah gaun. Ah mungkin cuma mirip, pikirku dalam hati. Franco turun dan diikuti oleh kami berlima. "Selamat pagi ratu tania!!" ucap Franco dan kemudian dia berlutut didepannya. "Sudah berdirilah Franco, selamat datang para ksatria ku...." ucap Ratu Tania. Senyumnya manis, dan wajahnya cantik terawat. Menurutku umurnya masih sekitar tiga puluh tahunan. Masih terlalu muda untuk menjadi seorang ratu. Kami semua hanya menunduk dan tersenyum.
"Aaahh!! kamu kan mbak-mbak SPG yang menjual flash drive kepada kami kemarin!!!" teriak Jack dari belakang. Ternyata dia baru turun dari kereta kuda dan sepertinya dia masih mabuk gara-gara gempa di atas jembatan tadi. Kami berempat kebingungan melihat Jack berteriak seperti itu kepada Ratu Tania. Tapi benar yang diteriakkan Jack, wajah Ratu Tania memang mirip dengan mbak-mbak SPG yang kemarin. Tapi seingatku warna rambutnya berbeda. Ratu Tania berambut pirang keemasan, sedangkan mbak-mbak SPG yang kemarin berambut hitam berkilau. Entahlah.
bersambung~
Bonus Content :
Catatan :
- Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa baca disini
- Maaf rilisnya telat dua hari lagi... hehe
- Oiya jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau di twitter @anom_tanjung
- Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sejauh ini :)
- Sampai jumpa di tanggal 5 Februari nanti!! bye!!
Credit :
- Anom Tanjung - Author
- Louis Cahyo - Ilustrator


No comments:
Post a Comment