07 January 2014

Eternal Glove - Part 5: Lima



"Ya, kalian adalah Ksatria Eternal," Franco mencoba meyakinkan kami lagi. Alisnya mengkerut, tampaknya dia senang melihat kami kebingungan. "Hahahahaa, mari ikut kami ke istana... diperjalanan nanti akan ku jelaskan." Franco pun berlalu bersama lima anak buahnya. Kami berlima masih kebingungan dan diam ditempat. Saling menatap dengan air muka penuh tanya. "Ayo!!" teriak Franco mengajak kami lagi dengan wajah bahagianya. Tanpa dikomando, kami pun berjalan mengikuti Franco dan pasukannya. Sambil berbisik Iceberg berkata, "ingat, mulai dari sini jangan sampai kelepasan menyebutkan nama asli..." kami semua mengangguk.


Warga kota yang berkumpul satu per satu membubarkan diri. Mereka melihat kami berlima dengan raut muka bangga dan bahagia, seakan menyambut pahlawan yang telah lama hilang. Entahlah.

Franco berjalan didepan, diikuti oleh kami berlima, dan pasukan kerajaan ada dibelakang. Menurut perkiraanku, Franco ini berumur sekitar tiga puluhan tahun. Rambutnya pirang, dengan kumis tipis dan dagu yang tegas. Pagi itu dia memakai celana panjang hitam dengan atasan jas putih dengan logo tulisan "EK" berwarna emas di dada kirinya. Sedangkan pasukannya terlihat memakai baju besi lengkap berwarna perak dengan sedikit garis ornamen emas di pergelangan tangan dan leher. Mereka juga tak lupa membawa pedangnya di pinggang kiri. Entah, Franco terlihat santai sekali pagi itu. Dia terlihat ceria dan tidak membawa senjata sama sekali.

Kebetulan penginapan kami berada di pinggir sungai dan dekat sekali dengan jembatan tengah. Setelah melalui beberapa blok, sampai lah kami di jembatan tengah. "Jadi, apa yang kamu maksud dengan Ksatria Eternal?" tanya Iceberg kepada Franco lagi. "Hahaa aku suka dengan semangatmu nak... ayo naik ke kereta dulu, nanti aku jelaskan disana." Franco menunjuk stasiun kecil di ujung jembatan tangah. Itu adalah stasiun kereta listrik. Hanya ada satu stasiun di jembatan tengah ini. Aku mencoba melihat ke empat jembatan lainnya, disana juga terlihat stasiun kereta. Tapi anehnya, stasiun keretanya nampak sangat sepi. Tidak ada hiruk pikuk warga disana.

"Pak Franco!! kenapa stasiun keretanya sepi sekali ya?? hehee...." tanya Jack memecah keheningan. "Pak?? hahaa, iya karena jembatan tengah ini hanya diperbolehkan digunakan oleh keluarga dan anggota kerajaan. Warga kota hanya boleh menggunakan ke empat jembatan lain. Kecuali jika dalam keadaan darurat." Franco tersenyum lagi. "Ohhh..... aduh!!" Jack diinjak kakinya oleh Rose, dan terlihat Rose memarahi Jack. "Orion, ayo cepat... lelet banget sih kamu jalannya..." teriak Rose kepadaku dan Aurora melambaikan tangannya. Tanpa sadar ternyata aku tertinggal jauh dibelakang mereka.


***

Kami sudah didalam kereta listrik dan melaju dengan kecepatan empat puluh kilo meter per jam. Lima pasukan yang dibawa Franco duduk di kursi belakang, dan kami berlima termasuk Franco duduk di kursi tengah berhadap - hadapan. Jadi, kursi dalam kereta ini hanya ada di sisi kanan dan kiri kereta yang berhadapan dan dibelakang ada lima kursi yang menghadap ke depan.

"Bagaimana Franco? apa itu Ksatria Eternal??" Iceberg bertanya lagi dengan tidak sabar. "Oke, oke... kalian pasti sudah tidak sabar..." Franco tersenyum lagi. "Tapi, sebelum kujelaskan tentang Ksatria Eternal... mari kita flashback dahulu ke dua puluh tahun yang lalu. Dua puluh tahun yang lalu, di Riviere ini ada lima kerajaan besar."
"Riviere??" tanya kami berempat bersamaan. Aurora hanya diam saja mendengarkan.
"Oh ya, Riviere adalah nama dunia kami. Kalau didunia kalian disebut apa.....?" jawab Franco kemudian balik bertanya. "Bumi!!" jawab Rose semangat. "Kenapa namanya Riviere, karena terdapat banyak sekali sungai disini. Hampir  empat puluh lima persen bagian dari dunia ini adalah sungai, sedangkan sisanya adalah daratan dan laut." Franco pun melanjutkan," dua puluh tahun yang lalu ada lima kerajaan besar disini. Mereka adalah Savana Kingdom, Briquette Kingdom, Costillas Kingdom, Felicano Kingdom, dan yang terakhir adalah Eternal Kingdom ini. Tapi, karena sesuatu hal ke empat kerajaan itu hancur dan hanya menyisakan Eternal Kingdom ini sebagai kerajaan terakhir yang ada di Riviere."
"Hancur?? Kenapa bisa hancur?" aku pun mulai angkat bicara.
"Soal itu, biar nanti Ratu Tania yang menjelaskannya di istana. Oiya, dari keempat kerajaan yang hancur itu, warga yang tersisa kemudian membangun sebuah desa dengan nama kerajaan mereka masing-masing. Dan mereka sekarang berada dibawah naungan Eternal Kingdom ini."
"Lalu, apa itu Ksatria Eternal?" tanya Iceberg mencoba mengembalikan arah pembicaraan.
"Nahhh... dahulu sebelum ke empat kerajaan itu hancur tidak ada yang namanya Ksatria Eternal." jawab Franco.
"terus??" tanya Iceberg lagi. 
"Dulu, ada lima orang ksatria yang sangat kuat dari seluruh penjuru Riviere. Ada Ksatria Savana dari Savana Kingdom yang dengan kekuatan sihirnya dia mampu menghancurkan sepuluh ribu pasukan sendirian. Ksatria Briquette dari Briquette Kingdom yang dengan pedang es nya dia mampu mengubah musim panas yang sangat kering menjadi badai salju. Ksatria Costillas dari Costillas Kingdom yang dengan panah apinya dia mampu membakar musuh yang berjarak ratusan meter. Ksatria Felicano dari Felicano Kingdom, dan Ksatria Eternal dari Eternal Kingdom yang dengan pisau peraknya dia mampu membunuh musuh dengan cepat tanpa suara. Lalu mereka berkumpul dan membentuk Ksatria Riviere yang menjaga kedamaian di dunia Riviere ini agar tidak terjadi perang."

Hening, kami berlima terdiam. "Tapi sejak hancurnya ke empat kerajaan itu sebutan Ksatria Riviere sudah tidak digunakan lagi, dan diganti dengan nama Ksatria Eternal. Senjata mereka pun disimpan oleh Eternal Kingdom, dan entah kenapa sekarang bisa kalian bawa." Franco tersenyum lagi. Kami berlima masih terdiam dan saling memandang tidak tau harus bagaimana. "Emm Franco, tadi kamu melewatkan penjelasan tentang Ksatria Felicano... apakah senjatanya sama denganku? tongkat? dan apa kekuatannya?" Aurora yang dari tadi diam saja mulai bertanya. "Ahhh iyaaaa.... senjatanya tongkat.... tapi, aku tidak tahu apa kekuatannya karena Ksatria Felicano sangat misterius. Maaf." Aurora nampak kecewa.

"Aaahhh akhirnya sampai juga kita di istana Eternal Kingdom...!!!" teriak Franco ketika kereta listrik yang kami tumpangi sudah mulai dekat dengan istana. Kami berlima terkesima melihat istana yang sangat megah itu. Dinding istana menjulang tinggi dan berlapiskan warna perak dengan garis - garis warna emas menghiasi istana itu secara minimalis. Akan tetapi, sedang asik menikmati keindahan istana dari dalam kereta, tiba-tiba terasa getaran yang sangat hebat seperti gempa bumi. Air sungai pun bergulung-gulung hingga membasahi dinding kereta. "Franco, gempa apa ini?" tanyaku kepada Franco. "Tenang, tenangkan diri kalian..." Franco yang dari tadi terlihat ceria, kali ini air mukanya berubah menunjukan rasa cemas.

bersambung~



Catatan :


  1. Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa baca disini
  2. Maaf rilisnya telat dua hari... hehe...
  3. Oiya jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau di twitter @anom_tanjung
  4. Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sejauh ini :)
  5. Sampai jumpa di tanggal 18 Januari nanti!! bye!!


-Anom Tanjung





No comments:

Post a Comment