18 April 2014

Eternal Glove - Part 11: Mantel, Peta, dan Kuda




Eternal Inn, pukul 17:00

Kami berlima kembali duduk di lobby Eternal Inn. Waktu berjalan begitu cepat. Tadi pagi kami dijemput paksa oleh Franco dari sini dan diajak ke istana Eternal Kingdom untuk menemui Ratu Tania. Kini, kami kembali lagi. Beristirahat sejenak di Eternal Inn sepertinya memang keputusan yang sangat tepat. Setengah jam lagi kami akan bertemu dengan Ratu Tania di gerbang kota dan berangkat meninggalkan kota yang indah karena lima jembatannya yang menjulang di tengah kota. Stevan, sang pemilik penginapan, masih dengan setelan baju yang sama dengan tadi pagi ketika kami pamit untuk keluar sebentar. Dia memakai celana panjang merah dengan atasan kemeja lengan panjang berwarna putih dan dibalut rompi tanpa lengan berwarna merah juga. Bedanya, kini lengan kemejanya telah digulung sebatas siku lengannya. Dari perawakannya, sepertinya dia berumur lima puluh tahunan. Rambut dan kumisnya yang tebal berwarna cokelat menyala. "Ini teh hangat buat kalian, beristirahatlah sebentar... tidak lebih dari setengah jam lagi kalian akan meninggalkan kota ini dan akan menghadapi monster ataupun makhluk liar lainnya di luar sana." Stevan meletakkan lima cangkir teh hangat dengan asap yang mengepul di atas meja di depan tempat kami duduk. 


Jack menggosok kedua pisaunya menggunakan tisu dan bertanya kepada Stevan. "Stevan, apa yang kau ketahui tentang Ksatria Eternal?" Stevan menjawab dari meja kerjanya yang ada di sudut ruangan, berseberangan dengan tempat kami duduk. Dia tersenyum dan berkata, "yang aku tahu? aku tahu segalanya tentang Ksatria Eternal." Iceberg menanggapi jawaban Stevan, "apa maksudmu Stevan?" Stevan berdiri dari meja kerjanya, dan berjalan menuju kami berlima. "Dengarlah kalian berlima, sampai sekarang ini para Ksatria Eternal sebenarnya masih hidup..." Kami berlima terdiam, saling melihat satu sama lain seperti tidak percaya. "Bukankah mereka telah mati?" tanya Rose yang sangat tidak percaya dengan Stevan. "Tidak, Ksatria Eternal masih hidup, dan mereka ada di sini, di ruangan ini, mereka adalah kalian!! Hahahahaa." Stevan tertawa puas sekali dan kami semua tertawa. "Hahaa aku pikir..." belum selesai aku bicara, Iceberg menyela, "cobalah untuk serius Stevan. Sebentar lagi kami akan berangkat, dan kami sama sekali tidak tahu kemampuan kami masing-masing. Yang kami tahu hanya sebatas pedangku bisa membekukan siapapun yang ditebasnya, pisau milik Jack bisa mengubah siapapun yang ditusuk menjadi batu, cincin Rose bisa mengeluarkan sihir api, panah Orion bisa membakar siapapun sasarannya, dan tongkat Aurora bisa menyembuhkan luka...." belum selesai Iceberg berbicara, Stevan memotongnya, "lalu apa lagi?? itu semua sudah cukup untuk membantu kalian. Kalian tinggal berimprovisasi dengan kekuatan yang kalian miliki, dan satu lagi, saling percayalah satu sama lain." Kami berlima terdiam. Hening.

Suara jangkrik dan kodok mulai bersautan di luar. Aurora memakai kacamatanya. "Sebentar lagi gelap, ayo kita ke gerbang kota teman-teman." Kami semua beranjak dari sofa empuk di lobby penginapan ini. Entah kapan lagi akan kami rasakan sofa yang empuk seperti ini beserta teh hangat dan gurauan Stevan. Aku tersenyum melihat Stevan. Seperti melihat sosok Ayah dalam dirinya. "Sampai jumpa Stevan, terimakasih atas sambutan hangatmu..." kami bersalaman satu per satu dengan Stevan seakan meminta doa restu dan keselamatan kepada Orang Tua. "Aku bangga dengan kalian." Ucap Stevan sambil tersenyum dan matanya berkaca-kaca.

***
Gerbang Kota, pukul 17:30

"Lama sekali kalian!!" Teriak Franco kepada kami. "Sebentar lagi matahari akan mulai hilang, dan pasukan Thalia akan menyerang... kalian harus segera berangkat..." Kami berjalan tergopoh-gopoh menemui Franco. "Maafkan kami Franco... dimana Ratu Tania?" tanya Iceberg sambil meminta maaf. "Ratu Tania tidak bisa menemui kalian, beliau telah menitipkan semuanya kepadaku... ini, kenakan mantel ini..." Franco membagikan satu per satu kepada kami mantel berwarna hijau tua dengan tudung kepala. "Mantel ini dibuat dari bulu domba yang dibiakkan secara khusus oleh Eternal Kingdom. Dengan menggunakan mantel ini, kalian tidak akan kepanasan, kedinginan, bahkan ketika hujan kalian tidak akan basah. Gunakanlah sebijak mungkin." Kami berlima langsung sibuk mengenakan mantel ini. "Dan ini... peta dunia dari Riviere... aku juga memberikan satu per satu kepada kalian simpanlah baik-baik... rute perjalanan yang harus kalian tempuh telah dituliskan Theo dengan jelas disitu." Setelah menerima peta, kami langsung membuka gulungan peta itu. "Bacalah dan pelajari peta itu dalam lima menit, sambil menunggu kuda yang aku siapkan untuk kalian tiba." Kuda? Sepertinya semuanya telah dipersiapkan secara matang. Untunglah Eternal Kingdom mempunyai sosok ahli strategi seperti Theo. 

Dalam peta ini dijelaskan, bahwa pertama-tama kami harus menuju Pantai Kabut, yaitu pantai perbatasan antara Eternal Kingdom dengan Savana Kingdom, dan kami harus menyeberangi Lautan Kabut agar bisa sampai ke wilayah Savana Kingdom. Lautan Kabut? perasaanku menjadi tidak enak ketika membaca namanya. 

"Cukup... sekarang naikilah kuda kalian dan segera berangkat... matahari hanya tinggal buaian semata." Tak terasa, ternyata sudah ada lima kuda yang berdiri gagah didepan kami. Tidak ada yang spesial dari warnanya, semuanya berwana cokelat, hanya ada cokelat muda dan tua. Tapi dari bentuk fisiknya, kuda-kuda yang disiapkan Franco sangat gagah. Kaki-kakinya kekar berdiri menopang tubuhnya yang besar dan lehernya yang tegas. Kami berlima menaikinya satu per satu. "Tunggangilah kuda kalian hingga kalian mencapai Pantai Kabut... dari sini teruslah berlari lurus, dan jangan hiraukan apa pun yang ada di depan kalian." Franco menunjuk keatas. Kami semua melihat ke atas dinding perbatasan kota, disana ada Rico yang sedang menyiapkan busur panah serta beberapa anak panahnya. "Rico dari atas dinding kota akan mengawasi kalian hingga kalian sampai ke Pantai Kabut. Rico!!" Franco berteriak memanggil Rico dan mengacungkan jempolnya. Sepertinya itu adalah kode bahwa kami sudah siap. Rico pun membalasnya dengan mengacungkan jempol. "Berangkatlah Ksatria Eternal, kembalilah dengan membawa ke lima pusaka Riviere!!" Franco menepuk pantat kuda yang ditunggangi Iceberg dan kuda itu pun berlari. Menyusul dibelakangnya kami berempat.

bersambung~



Catatan:
  1. Maaf telat rilis karena pas tanggal 5 kemarin ada kesalahan teknis... sebagai balasannya, hari ini akan rilis 2 part cerita langsung.
  2. Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa dibaca disini
  3. Jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau mention ke twitter saya @anom_tanjung atau langsung ke akun twitter @EternalGlove
  4. Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sampai sejauh ini :)

- Anom Tanjung




No comments:

Post a Comment