18 April 2014

Eternal Glove - Part 12: Sihir



Kuda yang kami naiki berlari sangat kencang. Layaknya Kuda Sembrani, kuda ini berlari seakan-akan dia terbang. Saking cepatnya angin yang menerpa kami jadi tidak terasa. Entah ini karena mantel yang kami kenakan atau karena terlalu kencang berlari. Biasanya, dengan kecepatan seperti ini, rambut keriting ku sudah berantakan karena terpaan angin. Iceberg masih yang terdepan, kami berempat saling mendahului bergantian. Sinar mentari senja telah hilang ditelan awan-awan yang menghitam. Gelap. Kami berkuda menuju selatan. Padang rumput yang luas ini seakan telah menjadi taman bermain untuk kuda yang kami naiki ini. Aku melihat ke arah barat, dikejauhan terlihat matahari yang mulai tenggelam ke dalam lautan lepas. Sedangkan disisi timur, disana ada pepohonan lebat, sepertinya itu hutan. Ya memang hutan. Aura gelap seperti menaunginya.


Aku mencoba untuk tetap bersiaga. Aku melihat ke sisi kanan. Aurora berpegangan erat kepada tali kekang sang kuda, dia menunduk. Jack ketiduran diatas kudanya. sempat-sempatnya dia tidur. "Iceberg!!" aku mencoba memanggil Iceberg. "Ada apa Orion?" Iceberg menoleh sedikit ke belakang sebelah kirinya. "Bagaimana didepan? apa kau sudah melihat pantai?" tanyaku sambil setengah berteriak. "Masih belum Orion, sepertinya masih jauh." Aku memicingkan mata dan melihat ke sebelah kiri. Dari arah hutan seperti ada cahaya merah berpasang-pasangan menuju ke arah kami. "Rose!!" aku mencoba memanggil Rose yang ada di sebelah kiri ku. "Ada apa Orion?" Cincin yang dikenakan di jari manis tangan kirinya berkilauan. "Coba lihatlah ke arah hutan... aku melihat seperti ada cahaya merah yang menuju kemari..." masih setengah berteriak. "Itu..." dari sebelah kanan Aurora berkata lirih tapi masih terdengar. "Itu serigala!!" teriak Aurora. "Serigala??" seakan tidak percaya, aku dan Rose mencoba melihat lagi. "Iya itu serigala!!" kami berdua berteriak bersamaan. "Iceberg!! Iceberg!! ada serigala mengejar kita dari sisi kiri!!" Jantungku mulai berdegup kencang. Panik. Iceberg hanya menoleh memperhatikan kawanan serigala yang mengejar kami. Kawanan serigala itu kini ada dibelakang kami. Semakin dekat, semakin dekat. 

"Semuanya tetaplah tenang, percayalah pada Rico yang melindungi kita dari kejauhan." Aku mencoba tenang, tapi tidak bisa. Aku menoleh ke belakang. Kira-kira ada sepuluh ekor serigala dalam kawanan ini. Aurora nampak ketakutan, dia memegang tali kekangnya semakin erat. Rose mencoba waspada, dia siap kapan pun mengeluarkan sihir apinya. Jack? masih tertidur pulas diatas kudanya. 

Dua ekor serigala mulai bisa menyamai laju kuda kami, mereka kini ada di sisi kiri kami tepat disebelah Rose. "Iceberg!! ada dua serigala di sebelah kiri!!" Aku telah siap dengan busur panah dan anak panahku di tangan. Iceberg memegang gagang pedangnya di punggung. Dari tangan kiri Rose juga telah keluar kobaran api kecil yang meletup-letup. Dua serigala ini berwajah beringas. Mereka berlari dengan mulut terbuka. Air liur mengalir di sela-sela giginya yang tajam dan kemudian menetes terbawa angin. Lidahnya menjulur berwarna merah darah. Tersirat kebencian di wajah mereka. Sangat susah sekali membidik mereka dari atas kuda yang berlari kencang ini. Tiba-tiba dua serigala di sebelah kiri tadi melompat. "Rose!!" Aku, Iceberg, dan Aurora berteriak. Rose malah menunduk, tidak berani menggunakan sihirnya. 

Dua serigala itu tiba-tiba tersedot, masuk ke dalam lubang hitam di belakang mereka. Hilang tanpa bekas. Dari mana asal lubang hitam itu. Kami berempat kebingungan. "Itu pasti Rico!! ayo semua tetaplah berkonsentrasi pada kuda kalian!!" teriak Iceberg. Ah iya Rico, tapi bagaimana caranya? aku menaruh kembali anak panahku di kantong anak panahku di paha kiri, dan memegangi erat  busur panahku dengan tangan kiri, mencoba berkonsentrasi kembali dalam berkuda. Kira-kira di belakang masih ada delapan ekor serigala. "Crupp!!" terdengar suara anak panah hitam yang menancap di tanah di depan kami. Spontan, kami berlima berbelok ke kanan menghindari anak panah itu. Jack masih tertidur diatas kudanya, tali kekangnya ditarik oleh Aurora. Setelah kami berlima melewati anak panah yang menancap itu, keluar lubang hitam yang kira-kira berdiameter satu meter. Kami semua menoleh ke belakang, kawanan serigala itu satu per satu tersedot oleh lubang hitam itu. Hilang, tak bersisa. Hanya menyisakan kesunyian malam.

Kami terus berkuda menuju Pantai Kabut. Kawanan serigala berulang kali muncul dan berulang kali menghilang ditelan lubang hitam yang dibuat oleh Rico. Kami hanya fokus berkuda hingga akhirnya sampai ke tujuan.

***

Pantai Kabut, pukul 20:00

Akhirnya kami tiba di Pantai Kabut. Seperti namanya, pantai ini berkabut sangat tebal. Aku, Aurora, dan Iceberg terduduk di pasir pantai yang putih bersih. Mencoba menenangkan diri dari peristiwa barusan. Sudah tidak ada serigala yang menyerang kami disini. Jack sedang dimarahi oleh Rose karena tadi ketiduran diatas kuda. "Lalu, bagaimana kita akan menyeberangi lautan yang ada di depan kita?" aku bertanya ke Aurora dan Iceberg. Aurora menggelengkan kepalanya, "entahlah, disini juga tidak ada perahu." Iceberg tidak menjawab. Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju bibir pantai. Aku dan Aurora hanya melihatnya pasrah. Iceberg memandang lurus ke arah lautan berkabut itu. Lalu tangan kanannya meraih gagang pedangnya yang berada di punggungnya. Sarung pedang milik Iceberg sengaja ditaruhnya di punggung. Katanya, agar mobilitasnya lebih mudah. Iceberg pun menarik keluar pedangnya dari sarungnya. Dengan dua tangan dia memegang pedangnya diatas kepalanya. Sekuat tenaga dia berteriak, "ICE PATH!!" pedangnya diayunkan ke bibir pantai di depannya. Air di depannya kemudian membeku, berubah menjadi es. Perlahan air laut didepannya membeku hingga jauh. Aku dan Aurora berpandangan lalu tersenyum senang. Iceberg menoleh ke belakang, setelah tersenyum dia berkata, "Ayo!!"


bersambung~


Catatan:
  1. Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa dibaca disini
  2. Jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau mention ke twitter saya @anom_tanjung atau langsung ke akun twitter @EternalGlove
  3. Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sampai sejauh ini :)
  4. Sampai jumpa di tanggal 5 bulan Mei!! bye!!

- Anom Tanjung



No comments:

Post a Comment