Kuda yang kami naiki berlari sangat kencang. Layaknya Kuda Sembrani, kuda ini berlari seakan-akan dia terbang. Saking cepatnya angin yang menerpa kami jadi tidak terasa. Entah ini karena mantel yang kami kenakan atau karena terlalu kencang berlari. Biasanya, dengan kecepatan seperti ini, rambut keriting ku sudah berantakan karena terpaan angin. Iceberg masih yang terdepan, kami berempat saling mendahului bergantian. Sinar mentari senja telah hilang ditelan awan-awan yang menghitam. Gelap. Kami berkuda menuju selatan. Padang rumput yang luas ini seakan telah menjadi taman bermain untuk kuda yang kami naiki ini. Aku melihat ke arah barat, dikejauhan terlihat matahari yang mulai tenggelam ke dalam lautan lepas. Sedangkan disisi timur, disana ada pepohonan lebat, sepertinya itu hutan. Ya memang hutan. Aura gelap seperti menaunginya.
18 April 2014
Eternal Glove - Part 11: Mantel, Peta, dan Kuda
Eternal Inn, pukul 17:00
Kami berlima kembali duduk di lobby Eternal Inn. Waktu berjalan begitu cepat. Tadi pagi kami dijemput paksa oleh Franco dari sini dan diajak ke istana Eternal Kingdom untuk menemui Ratu Tania. Kini, kami kembali lagi. Beristirahat sejenak di Eternal Inn sepertinya memang keputusan yang sangat tepat. Setengah jam lagi kami akan bertemu dengan Ratu Tania di gerbang kota dan berangkat meninggalkan kota yang indah karena lima jembatannya yang menjulang di tengah kota. Stevan, sang pemilik penginapan, masih dengan setelan baju yang sama dengan tadi pagi ketika kami pamit untuk keluar sebentar. Dia memakai celana panjang merah dengan atasan kemeja lengan panjang berwarna putih dan dibalut rompi tanpa lengan berwarna merah juga. Bedanya, kini lengan kemejanya telah digulung sebatas siku lengannya. Dari perawakannya, sepertinya dia berumur lima puluh tahunan. Rambut dan kumisnya yang tebal berwarna cokelat menyala. "Ini teh hangat buat kalian, beristirahatlah sebentar... tidak lebih dari setengah jam lagi kalian akan meninggalkan kota ini dan akan menghadapi monster ataupun makhluk liar lainnya di luar sana." Stevan meletakkan lima cangkir teh hangat dengan asap yang mengepul di atas meja di depan tempat kami duduk.
Subscribe to:
Comments (Atom)

