Richad memegang kepalanya sejenak. Sepertinya ingatannya mulai pulih. Dia menatap tajam kami berdua. Lirih berkata, "Aku belum ingat. Aku tidak tahu mengapa bisa disini..."
"Ahhh ya sudahlah, yang penting kita sudah tahu kenapa bisa berada di tempat ini dan lengkaplah kita bertiga berada disini.... hahaa," kata Andika gembira. Kami bertiga adalah tiga orang sahabat yang selalu bersama sejak awal kuliah hingga sekarang. "Ini bukan saatnya buat tertawa Dikk, kita harus segera pergi dari sini sebelum diserang oleh makhluk aneh lainnya," tukas Richad. "Tapi pergi kemana? ini sudah malam, dan kita tidak tahu ada dimana...." kata Andika pasrah. Aku yang dari tadi diam pun ikut bersuara, "Iya, kita harus pergi kemana? Tempat ini sangatlah asing. Tapi itu lebih baik dari pada kita berdiam diri disini menunggu serangan monster aneh lainnya." Richad menunjuk ke arah belakang ku dan berkata, "Lihatlah, disana ada cahaya terang. Itu pasti cahaya dari sebuah kota. Ayo kita kesana."
"Ahh benar juga, ayo kita kesana. Dari pada disini di makan serigala." kilah Andika. "Oke..." Jawabku singkat. Kami pun berjalan menuju cahaya itu. Richad ada di depanku dan Andika di belakangku. Formasi ini sengaja kami gunakan karena hanya aku yang menggunakan senjata jarak jauh. Jika ada serangan mendadak dari depan maupun belakang, mereka berdua siap untuk menghalaunya dan aku siap untuk membantu mereka dari belakang dengan busur panahku.
"Ahhh ya sudahlah, yang penting kita sudah tahu kenapa bisa berada di tempat ini dan lengkaplah kita bertiga berada disini.... hahaa," kata Andika gembira. Kami bertiga adalah tiga orang sahabat yang selalu bersama sejak awal kuliah hingga sekarang. "Ini bukan saatnya buat tertawa Dikk, kita harus segera pergi dari sini sebelum diserang oleh makhluk aneh lainnya," tukas Richad. "Tapi pergi kemana? ini sudah malam, dan kita tidak tahu ada dimana...." kata Andika pasrah. Aku yang dari tadi diam pun ikut bersuara, "Iya, kita harus pergi kemana? Tempat ini sangatlah asing. Tapi itu lebih baik dari pada kita berdiam diri disini menunggu serangan monster aneh lainnya." Richad menunjuk ke arah belakang ku dan berkata, "Lihatlah, disana ada cahaya terang. Itu pasti cahaya dari sebuah kota. Ayo kita kesana."
"Ahh benar juga, ayo kita kesana. Dari pada disini di makan serigala." kilah Andika. "Oke..." Jawabku singkat. Kami pun berjalan menuju cahaya itu. Richad ada di depanku dan Andika di belakangku. Formasi ini sengaja kami gunakan karena hanya aku yang menggunakan senjata jarak jauh. Jika ada serangan mendadak dari depan maupun belakang, mereka berdua siap untuk menghalaunya dan aku siap untuk membantu mereka dari belakang dengan busur panahku.
Gerbang kota yang sangat megah sudah terlihat di depan mata. Tapi jaraknya masih sekitar lima ratus meter. Kami pun kemudian berlari dengan bersemangat. Tiba-tiba dari sisi kiri kami ada bola api yang terbang menuju kami. Richad langsung menghalau bola api itu dengan pedangnya. Ceeeeessssssshhh, begitu suara bola api yang menguap karena tebasan pedangnya. "Siapa kalian?!! Apa mau kalian?!!" terlihat dua sosok bayangan wanita datang menghampiri kami. "Ah maaf, kami kira tadi kalian....... Ahhhh Richad!! Andika!! Tanjung?!! syukurlah akhirnya kami menemukan kalian!!" aku seperti mengenal suara itu. Aku picingkan mata sedikit dan benar saja, pemilik suara itu adalah Wina, dan terlihat Nadia menyusul dibelakangnya sambil melambaikan tangan. Ahh senyum manis itu.
"Kenapa kalian berdua ada disini?" tanya Richad. "Entahlah...... tadi kami berdua masuk ke kamarnya Tanjung, tahu-tahu kami terbangun di tempat ini."
"Ahhh apa kalian berdua juga melihat cahaya yang terang waktu masuk ke kamarnya Tanjung?" tanya Andika buru-buru. "Ya.... dan kami juga menemukan kamar Tanjung kosong tidak ada seorang pun," jawab Wina. "Berarti bisa disimpulkan kita berlima ini pingsan setelah melihat cahaya dari lampu USB Flash Drive, kemudian tubuh kita berpindah ke tempat ini," kata Andika mencoba menyimpulkan. Aku pun menambahkan, "ini berarti tubuh asli kita Dikk??" Andika mengangguk pasrah. Richad pun langsung menyela obrolan kami, "ayo kita segera masuk ke kota, kita lanjutkan obrolan kita di penginapan nanti."
"oke !!"
"baiklah"
"ya"
"mari..." Jawab kami bergantian.
"Tapi sebelum masuk ke kota, kita harus mengganti nama kita," kata Richad. "Hah?? buat apa??" tanyaku. "Bukankah kalian berdua sering main game dan nonton film. Ini untuk berjaga kalau saja nanti ada sesuatu hal yang tidak diinginkan. Apa kalian tidak berpikir kalau dari tadi skenario yang kita alami mirip di dalam game atau film??" Richad mencoba menjelaskan kepada kami. "Ahh benar juga kamu Chad!!" kata Andika menyetujui.
"Ahhh apa kalian berdua juga melihat cahaya yang terang waktu masuk ke kamarnya Tanjung?" tanya Andika buru-buru. "Ya.... dan kami juga menemukan kamar Tanjung kosong tidak ada seorang pun," jawab Wina. "Berarti bisa disimpulkan kita berlima ini pingsan setelah melihat cahaya dari lampu USB Flash Drive, kemudian tubuh kita berpindah ke tempat ini," kata Andika mencoba menyimpulkan. Aku pun menambahkan, "ini berarti tubuh asli kita Dikk??" Andika mengangguk pasrah. Richad pun langsung menyela obrolan kami, "ayo kita segera masuk ke kota, kita lanjutkan obrolan kita di penginapan nanti."
"oke !!"
"baiklah"
"ya"
"mari..." Jawab kami bergantian.
"Tapi sebelum masuk ke kota, kita harus mengganti nama kita," kata Richad. "Hah?? buat apa??" tanyaku. "Bukankah kalian berdua sering main game dan nonton film. Ini untuk berjaga kalau saja nanti ada sesuatu hal yang tidak diinginkan. Apa kalian tidak berpikir kalau dari tadi skenario yang kita alami mirip di dalam game atau film??" Richad mencoba menjelaskan kepada kami. "Ahh benar juga kamu Chad!!" kata Andika menyetujui.
"Kalau begitu, nama depanku Rose.... biar kayak di film Titanic. Nama belakangnya.... Emm... Heart, Rose Heart!! Hahaa." Teriak Wina bersemangat. "Kalau Wina namanya Rose, berarti Aku Jack, Jack Dagger!! hahahaa!!" sahut Andika lebih bersemangat. Wina terlihat cemberut, aku cuma tersenyum. "Hahaa terserah kalian, namaku Iceberg. Kalian berdua?" Richad melirik ke arahku dan Nadia. "Aku Orion." Jawabku singkat. "Aku Aurora." Jawab Nadia sambil tersenyum ke arahku kemudian menundukkan wajahnya. "Itulah nama kita setelah memasuki kota nanti, jika suatu saat terpisah, gunakan nama asli kita sebagai sandi rahasia ketika bertemu kembali. Ingatlah...." kata Richad. Kami semua mengangguk tanda setuju.
Kemudian kami pun berjalan memasuki gerbang kota. Di atas gerbangnya yang besar tertulis, Eternal City.
bersambung~
Catatan :
- Penasaran sama lanjutan ceritanya? silahkan baca disini.
- Selamat menikmati, jangan lupa kasih komentarnya ya biar ada perkembangan atau bagian mana yang perlu di koreksi. hehee. Sampai jumpa di tanggal 5 bulan depan !! bye !!!
-Anom Tanjung
Isinya khayalanmu semua. Khayal banget sama kyk yg nulis. Tapi enak dibaca dan alur maju mundurnya bisalah.
ReplyDeletemakasih ya bii..... tunggu kelanjutannya ya... hehe
DeleteSudah keren ini bro Anom.. Oiyah.. Kurangi penggunaan kata sifat untuk deskripsi SHOWING ya.. Lanjut terussss.. :D
ReplyDeleteterimakasih bro alitt atas masukannya.... pasti dilanjut dong :D
Deletei am Jack dagger !
ReplyDeletehahahaa
Deletemasih sebulan sekali ya rilisnya. phih! :)))
ReplyDeleteyang penting tetep jalan :))
DeleteNamanya juga khayalan semua bisa terjadi,, kenalkan aku "Jiban" Haahahhahaha
ReplyDeleteahahahaa.... jiban... jiban.... orak tau katok an~ hahaahaa
ReplyDelete