05 February 2014

Eternal Glove - Part 7: Takdir



Ratu Tania pun langsung mengajak kami sarapan di ruang makan istana. Setelah memasuki lobby istana, sekarang kami berjalan melewati lorong yang panjang menuju ruang makan. Dinding lorong itu dihiasi dengan lukisan wajah raja terdahulu. Sedang memperhatikan lukisan-lukisan itu Jack berbisik kepada ku, "benarkan yang aku bilang... wajah ratu tania mirip benget sama mbak-mbak SPG kemarin." 


"Iyaaa.... aku juga ngerasa kayak gitu... coba deh nanti kita tanya ke ratu tania lagi... mungkin dia juga tahu gimana kita bisa masuk ke dunia ini dan untuk apa kita disini," jawabku sambil berbisik juga. Kami telah melewati dua pintu besar di sebelah kiri dan lukisan raja terdahulu masih berderet panjang di dinding lorong ini. Kalau tidak salah, menurut informasi yang kudapat dari Stevan -sang penjaga penginapan- tadi malam, nama raja terakhir dari kerajaan ini adalah Raja Connel dan dari tadi aku belum melihat wajahnya di salah satu lukisan ini. Ratu Tania yang berjalan didepan kami tiba-tiba berhenti di depan sebuah lukisan. Dia tersenyum kepada lukisan itu, kemudian berkata,"tenang saja sayang, para ksatria mu telah datang."

Kali ini kami berlima hanya ditemani Ratu Tania dan dua orang pelayan wanita. Setibanya di lobby  tadi Franco langsung pergi, katanya dia akan berpatroli keliling kota. Kami pun berjalan lagi menuju ruang makan. Walaupun dari luar istana ini terlihat sangat megah dengan warna peraknya, ternyata bagian dalam istana ini bisa dikatakan tidak megah seperti tampilan luarnya. Tapi elegan. Ya elegan, dinding kayu bagian dalam istana ini terlihat bersih dan mengkilap karena pernis. Lampu hias yang mewah pun menggantung di langit-langit lorong ini. "Maaf ratu tania... yang barusan tadi itu lukisan siapa?" tanya Rose kepada Ratu Tania. "Raja Connel, suamiku... telah gugur lima belas tahun yang lalu di medan perang." Jawab Ratu Tania singkat. "Ah, maaf sudah lancang bertanya..." Rose menjadi iba. "Ayo kita bicarakan ini semua sambil makan pagi..." Ratu Tania tersenyum lembut sambil membuka pintu disebelah kanan.

Aroma daging panggang langsung menyeruak kedalam hidung ketika pintu itu dibuka. Ternyata kami telah sampai di ruang makan. Aroma teh hangat pun merasuk kedalam hidung kami. Sup jagung hangat juga tersaji diatas meja. Ratu Tania duduk di ujung meja, aku dan Rose disisi kiri, Jack dan Aurora disisi kanan, sedangkan Iceberg di ujung meja yang satunya. "Mau mulai dari mana kita?" tanya Ratu Tania mengawali pembicaraan. 

"Bagaimana dengan, kenapa kami berlima?" tanya Iceberg mengagetkan. "Baiklah, mungkin akan lebih baik dengan bagaimana cara kalian datang kemari. Mungkin Orion dan Jack sudah tahu..." Ratu Tania melihat kami secara bergantian "....kemarin itu memang aku yang menjadi mbak-mbak SPG dan menawarkan USB flash drive kepada kalian berdua..."

"Tuh kaaannnn!!" sahut Jack tiba-tiba. "Lalu kenapa harus kami berdua yang dipilih?" tanyaku mencoba memperjelas. "Sebenernya aku memilihnya secara random, karena setiap lima orang yang masuk melalui flash drive itu akan secara otomatis mewarisi kekuatan ke lima kesatria riviere. Jadi siapapun yang masuk ke dalam dunia ini sebenarnya tidak masalah. Akan tetapi aku tetap berusaha memilih orang-orang yang dapat dipercaya. Ketika flash drive itu mulai diaktifkan akan langsung memasukkan orang-orang disekitarnya sampai lima orang. Jika lima orang sudah masuk ke dunia ini, flash drive itu akan mati dan rusak."

"Haaahhh syukurlah...." aku menghela nafas panjang. "ada apa orion?" tanya Aurora kepadaku. "Ahh tidak... dari kemarin aku kepikiran gimana kalau sampai ibuku masuk ke kamarku dan ikut tersedot ke dalam dunia ini... hehe." Aurora tersenyum lega.

Aku meminum teh hangat yang tersaji didepanku. Daging panggang diatas meja sudah ingin disantap, akan tetapi penjelasan Ratu Tania lebih penting dari pada urusan perut. "Lalu untuk apa kami berlima ada di dunia ini?" tanya Rose melanjutkan obrolan ini. "Pertanyaan bagus, aku ingin kalian berlima menyelamatkan dunia ini dari kekejaman sihir Thalia... saudara kembar ku...." Ratu Tania menjawabnya tanpa basa-basi. "Hah apa?? gimana maksudnya?" Jack mencoba bertanya lebih jelas. "Mungkin kalian sudah mendengar dari Franco atau pun dari warga tentang pertempuran lima belas tahun yang lalu..."

"Ahh iya... aku sudah mendengarnya dari Stevan, penjaga penginapan tempat kami menginap semalam." aku mengingat cerita Stevan tadi malam. "Kenapa kamu tidak menceritakannya kepada kami, orion?" tanya Iceberg kepadaku. "Ahh maaf... semalam kalian semua sudah tidur, dan harusnya kuceritakan pagi ini tapi kita malah didatangi Franco dan diajak kesini."

Ratu Tania melanjutkan ceritanya, "lima belas tahun yang lalu Thalia secara diam-diam mengumpulkan pasukan kegelapan, dan satu per satu kerajaan di riviere dia hancurkan bersama pasukannya. Akan tetapi ketika dia akan menyerang Eternal Kingdom, Raja Connel berhasil menghalaunya dengan menggabungkan kekuatan ke lima senjata kerajaan. Thalia berhasil dipukul mundur dan sampai sekarang dia masih hidup di tangah hutan Aegina. Selama lima belas tahun ini dia mencoba memulihkan kekuatannya lagi dan akan datang kembali ke Eternal Kingdom ini untuk merebut satu-satunya pusaka yang belum dia dapatkan, Eternal Glove."

"Tunggu sebentar, tolong anda jelaskan secara pelan-pelan. Pusaka? apa yang anda maksud pusaka adalah senjata yang kami bawa ini?" tanya Iceberg mencoba memperjelas. "Bukan... pusaka ini adalah pasangan dari senjata yang kalian bawa... masing-masing ksatria riviere atau sekarang kita sebut dengan ksatria eternal memang memiliki senjata yang berbeda. Akan tetapi, masing-masing ksatria juga memiliki pusaka yang mendukung kekuatan masing-masing senjata. Pusaka dan senjata ini adalah warisan dari ke lima kerajaan dan kemudian digunakan oleh para ksatira riviere pada masa itu untuk tujuan yang baik."

"Lalu dimanakah ke lima pusaka ini? apakah kami bisa menggunakannya untuk melawan Thalia, saudara kembarmu itu?" aku bertanya dengan penasaran. Asap daging panggang dan sup jagung masih mengepul diatas meja. Aurora hanya diam saja dari tadi, dan dia mulai angkat bicara. "Kalau tidak salah dengar, tadi ratu telah mengatakan bahwa hanya tersisa satu pusaka, yaitu Eternal Glove, berarti itu milik kerajaan ini?"

"Benar sekali gadis cantik... ke empat pusaka kerajaan lainnya telah berhasil direbut oleh empat jendral pasukan milik Thalia lima belas tahun yang lalu, dan takdir kalian disini adalah merebut kembali ke empat pusaka itu dan menghancurkan Thalia sebelum kekuatannya kembali pulih." Ratu Tania mengatakannya dengan sangat bergelora. Seakan-akan dengan matinya Thalia dapat membawa kedamaian di Riviere ini.

Aku mulai menyendok sup jagung yang masih hangat di depanku. Manis, setelah masuk ke dalam kerongkongan mulut menjadi kosong dan pahit. Seperti kenyataan yang baru saja kami dengar. Bisa saja salah satu dari kami berlima mati atau kami semua mati ketika melawan Thalia. Aku tidak tahu.... yang pasti sudah menjadi takdir kami untuk melawan kekejaman Thalia terhadap dunia ini.


bersambung~



Catatan:
  1. Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa baca disini
  2. Jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau di twitter @anom_tanjung
  3. Terimakasih ya buat yang udah dukung sampai sejauh ini :)
  4. Sampai jumpa di tanggal 18 Februari!! bye!!!


-Anom Tanjung




4 comments:

  1. sebulan posting 2 kali, plis. Kelamaan nunggu per tanggal 5 mas. penasaran lanjutannya :'(

    ReplyDelete