"Orion.... ayo bangun orion....!! " aku terbangun dari tidur siangku. Ternyata Rose yang membangunkanku. Mataku masih berat untuk dibuka. "Ayo bangun dan siap-siap!! satu jam lagi kita harus menemui ratu tania di aula istana..." teriak Rose lagi dari depan pintu kamar. "Iya, iyaaaa...." jawabku sekenanya. "Dimana jack dan iceberg?" tanyaku sambil beranjak dari kasur. "Tuhh si jack lagi mandi sambil nyanyi-nyanyi gak jelas.... kalo iceberg, dia masih berlatih di lapangan bersama pasukan kerajaan." Sayup-sayup terdengar Jack sedang menyanyikan lagunya Charly Rae Jepsen yang berjudul Call Me Maybe. "Jaaaaack!! cepetan mandinya, gantian orion sama iceberg..." teriak rose lagi. "Iyaaaa...." jawab jack kemudian nyanyi lagi. Rose adalah tipe cewek yang cerewet, galak, dengan tingkat kecerdasan normal. Tapi cerewetnya si Rose ini terkadang suka bikin kangen dan lagi intuisi yang dia miliki sangat kuat. Aku suka tersenyum sendiri kalau melihat kelakuan Rose. "Gimana kalau aku mandi di kamar mandi cewek aja? kalian berdua udah mandi kan?" tanyaku mencoba mencari jalan pintas. "Eits... tidak boleh.... terlalu banyak rahasia di kamar mandi cewek yang tidak semua cowok boleh tahu," Rose pun pergi ke dalam kamar cewek.
Sambil menunggu Jack selesai mandi, aku pun keluar kamar. Aku melihat Aurora juga sedang berlatih menggunakan tongkatnya di balkon. Oiya, dulu Aurora adalah mantan anggota pramuka, sepertinya dia sudah terbiasa menggunakan tongkat pramuka. Terlihat dia sedang mengayunkan tongkatnya ke depan, berharap ada sihir yang keluar dari tongkat itu. Rambutnya yang hitam lurus sebahu digerai begitu saja, tidak diikat kuncir ekor kuda seperti biasanya. Mungkin karena habis mandi, jadi rambutnya masih basah. Aku berjalan pelan-pelan mendekati Aurora yang sedang sibuk dengan tongkatnya. Tiba-tiba kutepuk pundaknya untuk mengagetkannya. Bletaaakkk!! begitulah suara tongkat Aurora ketika menyentuh dahiku. Karena kaget, dengan spontan Aurora memukulku dengan tongkatnya. Aku langsung terduduk memegangi kepalaku dengan tangan kanan, pusing, dan darah segar mengalir. "Maaf orion, aku gak sengaja.... kamu sih ngagetin dari belakang..." ucap Aurora merasa bersalah. "Hahaa gakpapa kok, cuma luka ringan... lagian aku juga yang salah... hehe," aku melihat tangan kanan ku memerah karena darah. "Andai saja aku...." belum selesai Aurora bicara, dari ujung tongkat yang dipegang Aurora keluar cahaya hijau muda berkilau. Cahaya itu perlahan menuju luka di dahiku. Aku terkesima, rasanya sangat hangat kemudian dingin, dan luka yang kudapat barusan kemudian sembuh. Aku dan Aurora sama-sama tersenyum sumringah.
"Akhirnya!!" teriak kami berdua. "Ada apa??" tanya Rose yang baru keluar dari kamar sambil memegang segelas air putih. "Ini rose, akhirnya kekuatan tongkat aurora terungkap... kenapa aku tidak menyadarinya dari kemarin ya.. haha," jawabku senang sekali. "Ohh ya?? apa kekuatannya?" tanya Rose penasaran. "Hey, I just met you, and this is crazy~" tiba-tiba Jack keluar dari kamar mandi dan masih bernyanyi. "Hei ada apa ini? kayaknya lagi seru.." tanya Jack sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Akhirnya kekuatan tongkatku udah ketahuan Jack...hehe," jawab Aurora sumringah. "Oh ya? kekuatan penyembuh bukan?" tanya Jack lagi mengagetkan kami bertiga. "Kok kamu bisa tahu Jack?" tanya Rose penasaran. "Iya tadi aku pas lagi mandi gak sengaja kepikiran sama kekuatan tongkatnya Aurora.... nahh aku jadi inget kalo di game RPG, pasti ada satu tokoh yang punya kekuatan bisa nyembuhin karakter lain. Nahh kebetulan aja nih tokoh penyembuh diantara kita kan belum ada. Pasti deh Aurora... ehh ternyata bener.... hehe.." Jack menjelaskannya dengan bangga. "Baguslah, berarti kekuatan kita semakin bertambah...." ucap Iceberg sambil tersenyum. Tiba-tiba Iceberg ada di ruangan ini, sejak kapan dia masuk? ahh pasti kami tidak mendengar suara pintu terbuka karena saking asiknya. "Ayo kita segera bersiap, satu jam lagi kita harus menemui ratu tania di aula dan menyampaikan keputusan kita.... aku mandi dulu," Iceberg langsung masuk ke dalam kamar mandi. "Eeeeehhh aku duluan Ice!!" teriakku tidak terima karena antrian kamar mandiku diserobot. Jack, Rose, dan Aurora pun tertawa.
"Akhirnya!!" teriak kami berdua. "Ada apa??" tanya Rose yang baru keluar dari kamar sambil memegang segelas air putih. "Ini rose, akhirnya kekuatan tongkat aurora terungkap... kenapa aku tidak menyadarinya dari kemarin ya.. haha," jawabku senang sekali. "Ohh ya?? apa kekuatannya?" tanya Rose penasaran. "Hey, I just met you, and this is crazy~" tiba-tiba Jack keluar dari kamar mandi dan masih bernyanyi. "Hei ada apa ini? kayaknya lagi seru.." tanya Jack sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Akhirnya kekuatan tongkatku udah ketahuan Jack...hehe," jawab Aurora sumringah. "Oh ya? kekuatan penyembuh bukan?" tanya Jack lagi mengagetkan kami bertiga. "Kok kamu bisa tahu Jack?" tanya Rose penasaran. "Iya tadi aku pas lagi mandi gak sengaja kepikiran sama kekuatan tongkatnya Aurora.... nahh aku jadi inget kalo di game RPG, pasti ada satu tokoh yang punya kekuatan bisa nyembuhin karakter lain. Nahh kebetulan aja nih tokoh penyembuh diantara kita kan belum ada. Pasti deh Aurora... ehh ternyata bener.... hehe.." Jack menjelaskannya dengan bangga. "Baguslah, berarti kekuatan kita semakin bertambah...." ucap Iceberg sambil tersenyum. Tiba-tiba Iceberg ada di ruangan ini, sejak kapan dia masuk? ahh pasti kami tidak mendengar suara pintu terbuka karena saking asiknya. "Ayo kita segera bersiap, satu jam lagi kita harus menemui ratu tania di aula dan menyampaikan keputusan kita.... aku mandi dulu," Iceberg langsung masuk ke dalam kamar mandi. "Eeeeehhh aku duluan Ice!!" teriakku tidak terima karena antrian kamar mandiku diserobot. Jack, Rose, dan Aurora pun tertawa.
***
Kami berlima telah siap. Senjata kami pun tak lupa untuk dibawa. Takut jika seseorang ada yang mencurinya, kata Iceberg. "Tok tok tok..." ada yang mengetuk pintu ruangan kami. Iceberg menuju pintu dan membukanya, aku mendengar suara perempuan, "Selamat sore, ratu tania telah menunggu kalian di aula." Kami pun mendekat ke arah pintu. Dia tersenyum kepada kami satu per satu. Parasnya cantik, tingginya hampir sama dengan Iceberg, usianya juga sepertinya sama dengan kami. Rambut pirangnya panjang bergelombang hampir sepinggang dengan poni lurus. Aroma parfumnya seperti wangi bunga lavender. "Perkenalkan, nama saya Allysa... saya adalah salah satu prajurit dari Eternal Kingdom..." ucapnya sambil tersenyum. "Mari ikuti saya...." kami pun berjalan mengikuti Allysa menuju aula istana ini. Allysa juga membawa sebuah kapak besar yang diselipkan secara horizontal di pinggang belakangnya. Sepertinya itu senjata miliknya. Allysa membimbing kami menuju tangga untuk naik ke lantai tiga dimana aula berada. Setelah sampai di lantai tiga, hanya ada dua ruangan berhadapan disini. Jika dilihat dari tangga, pintu sebelah kiri adalah kamar tidur ratu tania, dan pintu sebelah kanan adalah aula.
Kami memasuki aula, ruangan ini sangat luas. Dinding sisi kiri dan kanan dipenuhi oleh beberapa jendela yang sangat besar yang memungkinkan semburat mentari senja masuk ke dalam ruangan ini. Di ujung ruangan ada kursi besar yang diduduki oleh Ratu Tania. Ada lukisan raja terdahulu yang menempel di dinding belakangnya. Ratu Tania berdiri dari kursinya untuk menyambut kami. Allysa berlutut, "selamat datang para ksatria ku. Berdirilah Allysa. Mungkin kalian telah berkenalan dengan Allysa, dia adalah prajurit wanita terkuat yang dimiliki oleh kerajaan ini." Allysa melirik kepadaku, dia mengedipkan satu matanya. Entah apa maksudnya.
"Keluarlah kalian dari sana, mari kuperkenalkan kalian dengan ksatria ku." Ucap Ratu Tania kepada seseorang, atau bahkan beberapa orang. Dari kegelapan dinding dibelakang Ratu Tania muncul tiga orang. Aku baru sadar ternyata dari tadi ada beberapa orang yang berdiri disana. "Kalian sudah mengenalnya tadi pagi, Franco Rode, ketua pasukan utama Eternal Kingdom." Ratu Tania menunjuk ke arah Franco. Franco pun menunduk halus kemudian berdiri tegak kembali sambil tersenyum. Dia masih mengenakan jas putih dan celana hitam yang sama dengan yang dikenakannya tadi pagi, hanya bedanya kali ini dia membawa sebuah pedang di pinggang kirinya. "Yang kedua, Yudans, ketua pasukan keamanan Eternal Kingdom." Ratu Tania melihat ke arah Yudans. Yudans hanya tersenyum kepada kami. Badannya besar dengan kulit gelap. Dia juga membawa sebuah pedang besar yang diletakkan di punggungnya. Pedangnya lebih besar dibandingkan dengan milik Iceberg. Tidak seperti Franco, pakaian yang dikenakan Yudans sangat jauh dari kata rapi. Dia hanya mengenakan celana pendek berwarna cokelat dan rompi kulit binatang berwarna senada. "Dan yang terakhir adalah Rico. Ketua pasukan pemanah Eternal Kingdom." Ratu Tania berjalan turun dari tahtanya dan menuju ke arah kami. Rico hanya tersenyum kecut. Terlihat dia memakai pakaian serba hitam dengan mantel hitam yang menutupinya.
"Mereka berempat, termasuk Allysa adalah orang-orang yang beberapa tahun ini membantuku melindungi Eternal Kingdom dari serangan pasukan-pasukan kecil Thalia. Aku takut jika kekuatan Thalia bangkit kembali, kami tidak akan mampu menghalaunya." Raut wajah Ratu Tania berubah menjadi serius. "Jadi bagaimana, apakah kalian mau membantu kami untuk merebut ke empat pusaka yang tersisa dan kemudian menghancurkan Thalia beserta pasukannya?"
Kami berlima saling berpandangan dan mencoba meyakinkan diri. Iceberg maju satu langkah dari barisan kami dan berkata, "kami bersedia, tapi dengan beberapa syarat."
"Sebutkan apa syaratmu itu ksatria?" Ratu Tania kembali bertanya kepada kami. Diskusi serius akan segera dimulai kembali.
bersambung~
Kami memasuki aula, ruangan ini sangat luas. Dinding sisi kiri dan kanan dipenuhi oleh beberapa jendela yang sangat besar yang memungkinkan semburat mentari senja masuk ke dalam ruangan ini. Di ujung ruangan ada kursi besar yang diduduki oleh Ratu Tania. Ada lukisan raja terdahulu yang menempel di dinding belakangnya. Ratu Tania berdiri dari kursinya untuk menyambut kami. Allysa berlutut, "selamat datang para ksatria ku. Berdirilah Allysa. Mungkin kalian telah berkenalan dengan Allysa, dia adalah prajurit wanita terkuat yang dimiliki oleh kerajaan ini." Allysa melirik kepadaku, dia mengedipkan satu matanya. Entah apa maksudnya.
"Keluarlah kalian dari sana, mari kuperkenalkan kalian dengan ksatria ku." Ucap Ratu Tania kepada seseorang, atau bahkan beberapa orang. Dari kegelapan dinding dibelakang Ratu Tania muncul tiga orang. Aku baru sadar ternyata dari tadi ada beberapa orang yang berdiri disana. "Kalian sudah mengenalnya tadi pagi, Franco Rode, ketua pasukan utama Eternal Kingdom." Ratu Tania menunjuk ke arah Franco. Franco pun menunduk halus kemudian berdiri tegak kembali sambil tersenyum. Dia masih mengenakan jas putih dan celana hitam yang sama dengan yang dikenakannya tadi pagi, hanya bedanya kali ini dia membawa sebuah pedang di pinggang kirinya. "Yang kedua, Yudans, ketua pasukan keamanan Eternal Kingdom." Ratu Tania melihat ke arah Yudans. Yudans hanya tersenyum kepada kami. Badannya besar dengan kulit gelap. Dia juga membawa sebuah pedang besar yang diletakkan di punggungnya. Pedangnya lebih besar dibandingkan dengan milik Iceberg. Tidak seperti Franco, pakaian yang dikenakan Yudans sangat jauh dari kata rapi. Dia hanya mengenakan celana pendek berwarna cokelat dan rompi kulit binatang berwarna senada. "Dan yang terakhir adalah Rico. Ketua pasukan pemanah Eternal Kingdom." Ratu Tania berjalan turun dari tahtanya dan menuju ke arah kami. Rico hanya tersenyum kecut. Terlihat dia memakai pakaian serba hitam dengan mantel hitam yang menutupinya.
"Mereka berempat, termasuk Allysa adalah orang-orang yang beberapa tahun ini membantuku melindungi Eternal Kingdom dari serangan pasukan-pasukan kecil Thalia. Aku takut jika kekuatan Thalia bangkit kembali, kami tidak akan mampu menghalaunya." Raut wajah Ratu Tania berubah menjadi serius. "Jadi bagaimana, apakah kalian mau membantu kami untuk merebut ke empat pusaka yang tersisa dan kemudian menghancurkan Thalia beserta pasukannya?"
Kami berlima saling berpandangan dan mencoba meyakinkan diri. Iceberg maju satu langkah dari barisan kami dan berkata, "kami bersedia, tapi dengan beberapa syarat."
"Sebutkan apa syaratmu itu ksatria?" Ratu Tania kembali bertanya kepada kami. Diskusi serius akan segera dimulai kembali.
bersambung~
Catatan:
- RPG adalah singkatan Role Playing Game. Mungkin yang pernah main game seperti Final Fantasy, Suikoden, Chrono Cross, Breath of Fire, dan game semacamnya sudah tau arti dari istilah ini. Untuk lebih jelasnya silahkan dibaca wikipedianya disini
- Buat yang belum baca part cerita sebelumnya bisa dibaca disini
- Oiya... Eternal Glove sekarang udah punya akun twitter sendiri, silahkan difollow @EternalGlove
- Jangan lupa komentarnya ya, bisa langsung disini atau mention ke twitter saya @anom_tanjung atau langsung ke akun twitter @EternalGlove
- Terimakasih ya buat yang udah ngedukung sampai sejauh ini :)
- Sampai jumpa di tanggal 18 bulan Maret nanti!! bye!!
-Anom Tanjung

Barusan baca lagi dari pertama...
ReplyDeleteNice lah makin kesini makin bikin penasaran...
Masukannya ntar aja kalo ketemu ya njung.. hehe~
yoi dah mas~
Delete