01 March 2015

Awan Biru Helena

Source


On The Move

Sudah tiga bulan sejak aku pindah ke sekolah ini. Kami sekeluarga tinggal di Semarang karena Ayah dipindahtugaskan lagi oleh kantornya. Ini yang ketiga kalinya kami harus pindah dalam lima tahun terakhir. Umurku hampir tujuh belas tahun, dan aku tidak punya sahabat dekat, apalagi pacar. Seringnya kami pindah sangat pantas untuk dijadikan kambing hitam. Keadaan ini membuatku jadi sosok yang pendiam. Setiap masuk ke sekolah baru aku hanya beradaptasi seperlunya. Berkenalan dengan teman semeja hanya sebatas aku tahu namanya. Setahun lagi paling juga sudah pindah. Bahkan dulu waktu aku masih SD, kami pernah harus pindah, padahal baru dua bulan di sana.


Tidak ada yang menarik di kota ini. Lawang Sewu? Bagiku hanya bangunan berpintu banyak yang terlalu disanjung oleh warga sekitar. Tugu Muda? Tingginya bahkan hampir sama dengan tiang listrik di depan rumahku. Aku hanya tersenyum pahit. Tidak ada yang spesial di kota ini, hingga aku melihatnya.

Dia berkacamata, memiliki rambut hitam lurus sebahu. Wajahnya putih berseri, dihiasi bibir merah muda yang ranum. Saat istirahat sekolah, dia selalu duduk di depan kelas bersama teman-temannya. Sejak hari pertama di sekolah ini, aku sering memperhatikannya diam-diam. Ruang kelas kami berhadapan, dengan lapangan basket sebagai pemisah. Aku duduk di samping jendela. Tempat ini adalah satu-satunya bangku yang kosong ketika aku pertama kali masuk kelas. Kebetulan? Kurasa tidak. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Seperti aku yang duduk di sini agar bisa melihatnya dari kejauhan, dan mengaguminya diam-diam. Tuhan sudah menentukan takdirNya.

Entah apa yang menarik dari cewek ini. Semakin aku memikirkannya, semakin aku jatuh cinta. Hanya satu hal yang menarik darinya, kacamata dengan frame kebesaran. Unik, pikirku.

“Wan, kantin yok!!” ajakan Rizal membuyarkan lamunanku.

“Enggak dulu deh, nanti aja pas istirahat kedua. Kebetulan tadi pagi udah sarapan.”

Rizal, teman semejaku, pun pergi ke kantin bersama teman sekelas yang lain. Aku melihat jam di pergelangan tangan kiriku. Tepat pukul sembilan rupanya. Seperti biasanya, selama tiga bulan ini. Aku enggan meninggalkan tempat duduk selama waktu istirahat pertama agar bisa melihat gadis pujaanku duduk di depan kelasnya. Aku menikmati setiap detik yang terlewat, setiap hela nafas yang terhembus, dengan memandangnya dari kejauhan. Walaupun hanya lima belas menit, rasanya itu sudah cukup bagiku untuk mencintainya. Ya, mencintai secara diam-diam. Sangat menyedihkan.

Aku masih ragu untuk menyapanya, apalagi berkenalan dengannya. Bukannya tidak berani, sebenarnya aku hanya tidak mau terganggu oleh siswa lain saat aku dan dia berkenalan. Setiap hari dia selalu duduk di sana bersama teman-temannya, entah cowok maupun cewek. Kelihatannya, dia adalah sosok yang mudah berteman. Saat pulang sekolah pun aku sudah berusaha untuk menunggu di depan kelasnya, tapi tidak ada hasil. Sepertinya dia selalu pulang lebih dulu.

Mungkin untuk saat ini, aku hanya diperbolehkan mengawasinya dari sini. Aku masih menunggu saat itu tiba. Saat dia duduk sendirian di sana, tanpa ada seorang pun yang akan mengganggu moment perkenalan kami.

Kali ini dia duduk bersama teman-teman ceweknya. Mereka sedang bercanda dan tertawa terbahak, sementara si gadis pujaanku ini hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Tanpa kusadari, senyum simpul tersungging di bibirku.

“Lagi ngapain sih Wan?” sekali lagi lamunanku dibuyarkan oleh Rizal. Rupanya dia sudah kembali dari kantin. “Kayaknya dari kemarin kamu enggak pernah ke kantin pas istirahat pertama, ngapain sih?”

Tanpa menanggapinya, aku kembali melihat menembus kaca jendela. Pandanganku masih tertuju ke gadis pujaanku yang duduk bersama teman-temannya di seberang lapangan. Rizal menyusuri arah mataku kemudian memekik kecil, “Aaaahh aku tauuu... Kamu naksir anak kelas seberang ya? Hahaha!”

Rizal akhirnya mendapatkan perhatianku. Bukan hanya karena dia akhirnya tahu apa yang aku lakukan selama ini, tapi juga karena baru saja terlintas di pikiranku untuk memanfaatkannya. “Kamu kenal dia nggak?” tanyaku sambil menunjuk kaca jendela, ke arah tempat duduk gadis yang kumaksud. Rizal memicingkan mata lalu meringis.

“Wah... Kamu nggak salah pilih, Wan!”

“Kamu tau namanya?” bodoh, kenapa selama ini aku tidak bertanya ke Rizal.

“Lina,” jawabnya singkat.

“Yang pake kacamata, Lina?” tanyaku sekali lagi untuk memastikan.

“Iya! Jangan lupa traktirannya kalo nanti udah jadian. Hahaha”

Ucapan Rizal itu kutanggapi dengan senyum simpul sembari mengucapkan amin di dalam hati. Aku kembali tenggelam menikmati keindahan ciptaan Tuhan dari kejauhan. Lina. Nama itu terus bergaung di otakku hingga nyaring suara bel menghentikannya.

***

Pulang Sekolah

Semua anak keluar dari kelas dan bergegas pulang. Bisa aku pastikan Lina belum keluar dari kelas karena aku telah berdiri di depan sini bahkan sebelum bel usai pelajaran berbunyi. Kutatap pintu ruang kelas di depanku dalam-dalam. Dua menit, lima menit, sepuluh menit. Sepi. Tidak ada lagi siswa yang keluar dari kelas. Ah, sepertinya Lina sudah keluar kelas lewat jendela. Haha tidak mungkin, pikirku menghibur diri. Aku menyerah dan berbalik badan untuk segera pulang. Mungkin ini bukan hariku.

Baru tiga langkah berjalan menjauh, aku mencium semerbak bau teh. Aku menghirup lebih dalam, samar-samar wangi melati mengikutinya. Teh melati? Sepertinya, ini aroma parfum cewek. Aku segera membalikkan badan sekali lagi. Seketika waktu berhenti. Angin lembut berhembus pelan melewati helai rambutku. Inikah yang namanya cinta?

Gadis itu berdiri di hadapanku dengan tatapan syahdu yang selama ini hanya bisa kulihat dari kejauhan. Dia tersenyum ramah. Manis.

Aku mengatur napas dan memasang ekspresi setampan mungkin lalu mencoba menyapa, “Li... Li...” oke, gagal. “Lina? Kamu Lina, bukan?”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Memang lebih terdengar seperti guru BP yang sedang mencari siswa bandel daripada cowok keren yang ingin mengajak berkenalan.

“Namaku Helena,” jawabnya halus.

Cantik, hanya kata itu yang terlintas di pikiranku. Eh, Helena? Bukannya Lina? Aku melihat name tag di dadanya yang memang tertulis Helena Putri Utami. Mungkin Lina adalah nama panggilannya, aku menerka-nerka sendiri. Helena masih memandangku, seperti menanti sesuatu.

“Oh! Awan. Awan Biru Samudera!” teriakku grogi, saking groginya sampai nama lengkap kusebut semua. Helena tertawa kecil. Aku mengusap tangan kanan ke samping celana, bersiap untuk jabatan tangan pertama dengan Helena.

“Wan! Lagi ngapain? Ayo balik!”

Aaah, Rizal lagi. Kenapa harus disaat seperti ini. Akhirnya kuputuskan untuk berpamitan sebelum Rizal mendekat dan mengoceh yang aneh-aneh.

“Helena, aku duluan ya. Salam kenal, hehe...” ucapku sambil setengah berlari menghampiri Rizal yang sudah siap di atas sepeda motornya. Gara-gara Rizal aku jadi lupa berjabat tangan dan minta nomor handphone atau sekadar pin BB. Sudahlah, besok masih bisa bertemu lagi. Sepanjang perjalanan pulang aku hanya tersenyum membayangkan saat perkenalanku dengan Helena.

***

Namanya Helena

Bel tanda istirahat pertama telah berbunyi. Semua siswa cowok di kelasku langsung berlarian ke kantin. “Aku ke kantin dulu ya, Wan.” Rizal sudah paham dengan kebiasaanku. Aku tersenyum sambil memandang ke arah jendela. Helena, nama panggilannya Lina. Lucu juga. Beberapa teman cewek Helena sudah duduk di depan kelasnya. Aku menantikan kemunculan Helena dengan hati berdebar.

Lima belas menit berlalu. Waktu istirahat pertama telah selesai dan tidak ada Helena. Aku termenung. Selama tiga bulan ini, Helena selalu duduk di depan kelas saat istirahat pertama. Kenapa hari ini -sehari setelah aku berkenalan dengannya- dia tidak ada di sana? Apa dia sedang sibuk sehingga tidak sempat untuk keluar kelas? Pikiranku berkecamuk, tapi aku mencoba berpikir positif. Waktu istirahat ke dua nanti aku bisa menemuinya di kelas. Ya, aku harus berani datang ke kelasnya. Mengajaknya makan siang di kantin mungkin bisa mengakrabkan kami.

***

Back and Blue

Bel tanda waktu istirahat ke dua baru saja berbunyi. Semua siswa telah berhamburan di luar kelas untuk menghabiskan waktu. Aku sudah berdiri di depan kelas Helena. Karena tetap tidak melihatnya di tempat biasa dia duduk, aku menengok ke dalam. Tidak ada Helena. Hanya ada satu orang siswi berkacamata dengan rambut panjang yang dikuncir ekor kuda. Dia sedang sibuk membaca buku dan tidak menyadari kedatanganku. “Permisi...” ucapku memecah keheningan. Si gadis ekor kuda tampak kaget dengan kehadiranku. Dia membenarkan letak kacamatanya dan memasang wajah penasaran yang seakan bertanya, “Siapa ya?”

“Maaf, aku Awan, anak XI IA VI. Hari ini Lina enggak masuk kelas?” tanyaku dengan menyebutkan nama panggilan Helena. “Lina? Namaku Lina, dan aku masih di dalam kelas,” jawab gadis rambut ekor kuda itu sambil membenarkan letak kacamatanya sekali lagi. Tunggu sebentar. Lina? Mungkin namanya sama dengan nama panggilan Helena, pikirku. Ternyata benar, name tag di dadanya tertulis Lina Purbo Jati.

“Ah... Maksudku Helena, yang tiap istirahat pertama duduk di depan kelas. Dia enggak berangkat ya, hari ini? Tadi pas istirahat pertama dia enggak kelihatan duduk di depan kelas kayak biasanya.”

Gadis rambut ekor kuda, yang telah sah bernama Lina itu, tiba-tiba berdiri. Beberapa detik kemudian, butiran air mata mengalir di pipinya. “Akhirnya Helena bisa beristirahat dengan tenang.”

“Beristirahat dengan tenang? Maksudmu? Helena sudah ...?” Aku tidak sanggup melanjutkan pertanyaan terakhir. Lina menganggukkan kepalanya. Seluruh persendian di tulangku lemas seketika. Aku menatap nanar ke langit-langit kelas, embun sudah berkumpul di sudut mataku.

“Sini, aku tunjukin sesuatu.”

Lina yang sudah tidak menangis mengajakku ke meja guru. Dia mengambil foto kecil berbingkai kayu dari atas meja. Lina memberikan foto itu kepadaku. Helena dan teman sekelasnya sedang memakai kaos olah raga. Mereka tertawa senang di foto itu. “Helena itu teman baikku,” dia menjelaskan, “pas masih hidup, Helena emang suka duduk di depan kelas waktu istirahat pertama. Aku sempat tanya, mau sampai kapan dia ngelakuin hal itu.” Lina melepas kacamatanya.

“Apa jawabnya?” tanyaku penasaran.

 “Sampai cinta sejatiku menemukanku, katanya sambil ketawa. Emang udah takdir, keesokan harinya Helena meninggal karena kecelakaan lalu lintas.”

 “Tapi, kalau Helena meninggal, kenapa kalian teman sekelasnya enggak berkunjung ke rumahnya untuk mengantar kepergiannya? Kenapa hari ini enggak ada pengumuman berita duka dari pihak sekolah?” tanyaku masih tidak percaya dengan cerita Lina.

“Awan, Helena udah pergi sejak enam bulan yang lalu. Kayaknya, yang kamu lihat sejak tiga bulan lalu itu arwahnya. Setelah kepergian Helena, kami sekelas sepakat buat gantian duduk bareng-bareng di depan kelas pas istirahat pertama. Ya, sekedar nemenin Helena. Kami setengah percaya kalau arwahnya masih di sana, nunggu cinta sejatinya nemuin dia. Setelah kamu datang ke sini, sekarang aku beneran percaya.” Lina mengelap kacamatanya yang berembun karena air matanya.

Pikiranku melayang. Mengulang dari pertama kali aku melihat Helena, hingga kemarin ketika aku menanyakan namanya kepada Rizal. Ternyata yang dilihat Rizal waktu itu adalah Lina yang kini ada di depanku, bukan Helena. Aku yakin, yang dapat melihat Helena hanya aku, cinta sejatinya.

Lina memegang pundakku dan berkata, “Makasih Awan, sekarang Helena bisa istirahat dengan tenang karena cinta sejatinya udah menemukannya. Karena kamu udah mencintainya dengan tulus.”

Entah apa yang sudah aku lakukan. Dosa apa yang telah aku perbuat hingga aku mencintainya begitu dalam. Dia yang tidak pernah bisa kusentuh. Semua berlalu begitu cepat. Seperti pagi menuju senja, layaknya mentari digantikan rembulan. Kini dia telah pergi bersama cinta yang tak sempat kuungkapkan dan masih tersembunyi di lubuk hati yang paling dalam.






No comments:

Post a Comment